GOWA — Di dalam sebuah rumah sederhana di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Ashari Samadikun (34) duduk terpaku pada Kamis (8/10/2026). Rambut panjangnya yang memandu bulan-bulan kelam kini telah terpotong rapi. Namun, bayangan enam jam penuh teror di tengah lautan Somalia tak pernah benar-benar tanggal dari ingatannya.
Sesekali mata nakhoda kapal tanker MT Honour 25 itu berkaca-kaca. Di sampingnya, sang ibu, Siti Aminah, memeluk erat putra sulungnya seolah memastikan lelaki itu benar-benar telah pulang secara utuh. Ayahnya, Syamsuddin Dg Ngawing (67), mendampingi dengan raut wajah penuh haru.
Ashari adalah satu dari empat warga negara Indonesia (WNI) yang berada di kapal tersebut bersama total 17 kru. Tiga WNI lainnya adalah Wahudinanto (48), Adi Faizal (27) asal Bulukumba, dan Fiki Mutakin (25). Diculik sejak 21 April 2026, mereka menyabung nyawa di bawah cengkeraman perompak selama lebih dari lima bulan, sebelum akhirnya dibebaskan pada 29 September 2026.
Namun, kepulangan Ashari dibayar mahal oleh detik-detik penyelamatan yang justru berdarah dan mencekam.

Tegang di Bawah Ancam Senjata

Upaya penyelamatan semula diharapkan berjalan mulus. Negosiasi dilakukan, bahkan Ashari sempat melakukan panggilan video dengan utusan medis pemerintah asal Inggris, Mr. Leslie, untuk memastikan kondisi seluruh awak. Ashari kemudian diperintahkan mengarahkan kapal dari Durdura menuju Dinawda yang berjarak 170 mil.
Masalahnya, kondisi mesin kapal saat itu hanya berfungsi 30 persen. Belum sampai di tujuan, arus deras menghadang, membuat kapal tertahan.
Kepanikan mulai melanda ketika para perompak—yang memiliki jaringan mata-mata di sepanjang pesisir—mendapat kabar bahwa kelompok mereka di kapal lain, Busati, diserang. Dalam sekejap, kapal MT Honour 25 berubah menjadi benteng pertahanan terapung.
“Mereka standby keliling. Senjata anti-udara, senapan PKM, sampai AK-47 dipasang semua di sekeliling kapal,” kenang Ashari.
Di tengah situasi rentan itu, perompak terus memindahkan kapal. Ancaman kematian bergema setiap detik. “Dia bilang, kalau mereka (tim penyelamat) menyerang, kalian yang pertama mati, baru saya,” tutur Ashari menirukan ucapan bajak laut.
Mendengar bagian cerita itu, Siti Aminah makin erat merengkuh putranya. Matanya tak sanggup membendung air mata.

Baju Dilepas, Awak Diikat di Dek

Puncak teror terjadi ketika pasukan militer Puntland—wilayah semi-otonom di timur laut Somalia—mulai mendekat untuk melakukan operasi pembebasan. Sebelum pertempuran pecah, para perompak memaksa seluruh kru menjalankan salat Subuh berjamaah.
Usai beribadah, takdir para sandera mendadak di ujung tanduk. Sekitar 12 kru diseret ke dek kapal, diminta melepas baju, lalu tangan mereka diikat kencang pada railing (pagar pelindung) kapal. Mereka dijadikan perisai hidup.
Ashari yang berada di anjungan (bridge) berusaha mati-matian menghubungi berbagai otoritas terkait—termasuk MSISC, NGO Pakistan, hingga pemerintah Indonesia—memohon agar tidak ada gempuran udara maupun laut.
“Pak, minta tolong jangan ada serangan ke kapal ini. Kalau ada apa-apa, anggota saya yang paling pertama mereka bunuh. Kami semua di sini!” jerit Ashari melalui saluran komunikasi.
Namun, imbauan itu menguap di udara.

Enam Jam Hujan Peluru

Sekitar pukul 08.00 waktu setempat, sebuah kapal besar milik militer mendekat hingga jarak 500 meter. Perompak yang panik mulai melepaskan tembakan, dan dibalas dengan gempuran sengit oleh tim penyelamat dari arah laut dan darat.
Baku tembak dahsyat tak terelakkan. Hujan peluru menerjang kapal selama enam jam tanpa henti, dari pagi hingga pukul 14.00 siang.
“Saya tidak pernah melihat peluru sebanyak itu sepanjang hidup saya. Besi-besi railing meletup, anjungan kapal saya hancur,” kata Ashari dengan wajah panik yang masih tersisa.
Ashari berulang kali berteriak melalui radio meminta serangan dihentikan demi keselamatan krunya yang terikat tanpa pelindung di dek. Namun, jawaban dari tim pembebas memutus harapannya.
“Saya bilang, ‘Kru saya di dek, kalian bisa membunuh mereka!’ Tapi mereka bilang tidak peduli, mau kru mati atau tidak, yang jelas pembajak harus mati,” ungkapnya getir.

Duka di Atas Gelombang

Di tengah kepulan asap dan desingan peluru, Ashari sempat melihat pertempuran mereda selama dua menit—hanya jeda bagi kedua pihak untuk mengisi ulang amunisi (reload). Saat itulah Ashari menyaksikan pemandangan yang meremukkan hatinya.
Para perompak yang kalap dan panik mulai menembaki para sandera secara kalap. Fiki Mutakin, WNI termuda di kapal itu, terkapar bersimbah darah setelah diterjang timah panas di bagian kaki.
“Pas saya lihat, Fiki sudah terkapar penuh darah. Lalu tembakan makin kencang. Begitu saya lihat lagi, semua kru di dek sudah terkapar,” bisik Ashari. Suaranya bergetar. “Di situ saya tidak berhenti menangis.”
Dari 17 awak kapal, lima orang tewas terbunuh oleh tembakan panik para perompak, sementara 10 orang lainnya mengalami luka tembak berat dan ringan. Hanya tujuh orang yang berhasil selamat tanpa luka fisik berarti.
Ketika pertempuran perlahan mereda dan puluhan perompak mulai melarikan diri menggunakan perahu kecil, Ashari turun dari anjungan. Fokusnya hanya satu: menyelamatkan sisa anggota yang masih bernapas. Seorang kru yang terluka di bagian paha merangkak naik menghampirinya sambil berbisik lirik, “Cap, teman-teman kita banyak yang meninggal…”
Operasi pembebasan itu akhirnya berakhir. Sekitar 20 perompak berhasil ditangkap oleh otoritas setempat, sementara sisanya tewas dan melarikan diri. Bagi Ashari dan para korban selamat, trauma selama lima bulan di lautan Somalia dan tragedi enam jam hujan peluru itu akan menjadi parut luka yang membekas seumur hidup.(*)