JAYAWIJAYA – Tiga petugas pertanian tewas ditembak kelompok bersenjata di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026). Salah satu korban diketahui merupakan alumni Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Hasanuddin (Unhas), Aprida Rapi.

Peristiwa tersebut mendapat sorotan dari Amnesty International Indonesia. Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyebut penembakan terhadap warga sipil tersebut sebagai pelanggaran berat hukum kemanusiaan.

“Pembunuhan di luar hukum tersebut jelas merupakan pelanggaran berat hukum kemanusiaan,” kata Usman dalam pesan singkat kepada Kompas.com, Kamis (10/9/2026).

Usman menegaskan perlindungan terhadap warga sipil merupakan prinsip hak asasi manusia (HAM) yang harus dijunjung tinggi oleh negara demokratis.

Menurutnya, penargetan dan pembunuhan warga sipil secara sengaja oleh pihak mana pun tidak dapat dibenarkan.

“Semua pihak yang terlibat dalam konflik berkepanjangan di Papua harus menghindari pembunuhan terhadap warga sipil,” tuturnya.

Usman mengatakan pelaku penembakan harus diproses secara hukum oleh pihak berwenang. Penegakan hukum dinilai penting untuk memastikan kasus tersebut tidak berakhir tanpa pertanggungjawaban.

Ia juga menilai rentetan kekerasan di Papua yang berdampak terhadap warga sipil tidak terlepas dari pendekatan keamanan dan militeristik pemerintah di wilayah tersebut.

“Oleh karena itu, pendekatan represif tersebut harus segera dicabut karena ini merupakan kunci bagi upaya penyelesaian secara bermartabat dan manusiawi atas konflik berkepanjangan di Tanah Papua,” ujarnya.

Peristiwa penembakan terjadi saat rombongan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang berjumlah 11 orang sedang dalam perjalanan menuju Wamena.

Di tengah perjalanan, rombongan tersebut tiba-tiba dihadang kelompok bersenjata. Para pelaku kemudian memisahkan rombongan menjadi dua kelompok.

Satu kelompok terdiri dari delapan warga lokal Papua, termasuk seorang anak. Mereka disebut dibiarkan selamat. Sementara itu, tiga pegawai non-Papua menjadi sasaran penembakan kelompok bersenjata tersebut.

Ketiga korban disebut masih mengenakan seragam kantor saat peristiwa terjadi.

Mereka diketahui merupakan Petugas Bantuan Pangan (Bapang) yang tengah menjalankan tugas mendistribusikan bantuan pangan ke Distrik Muliama.

Dari rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tersebut, lima orang dilaporkan telah terkonfirmasi selamat dan mengamankan diri di Puskesmas Muliama.

Kabar tewasnya Aprida Rapi turut membawa duka bagi keluarga besar alumni Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.

Aprida merupakan alumni Fapet Unhas angkatan 1996. Ia dilaporkan tewas tertembak di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 15.47 Wita.

Kabar tersebut dengan cepat menyebar di sejumlah grup WhatsApp alumni Unhas, Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fapet Unhas, serta komunitas Fapet 96 Unhas.

Rekan-rekan Aprida mengaku terkejut dan kehilangan sosok yang dikenal pendiam tersebut. Terlebih, alumni Fapet 1996 dijadwalkan menggelar reuni akbar di Takalar pada 18-19 September 2026.

“Kami merasa sangat kehilangan atas meninggalnya Saudari kami Aprida. Padahal pekan depan kami ingin bertemu,” kata Muh Arsan Fitri, salah satu rekan korban.

Kepergian Aprida meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekannya. Di sisi lain, kasus penembakan tersebut kembali menyoroti persoalan perlindungan warga sipil di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung di Papua.(*)