SULSELONLINE.COM — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjanjikan pembayaran yang disebutnya sebagai “Dividen Trump” sebesar USD5.000 atau sekitar Rp87,5 juta kepada setiap warga dewasa Amerika Serikat jika Partai Republik menang dalam pemilu sela (midterm) dan tetap menguasai kedua kamar Kongres.

Janji tersebut disampaikan Trump dalam konvensi Partai Republik di Dallas, Texas, Rabu (9/9/2026). Ia menilai kondisi perekonomian AS serta penerimaan pemerintah dari kebijakan tarif memungkinkan Washington memberikan pembayaran langsung kepada masyarakat.

“Jika Partai Republik menang, Anda menang bersama kami dan Anda mendapatkan USD5.000,” kata Trump di hadapan para pendukungnya.

Trump menyebut pembayaran itu sebagai “Dividen Trump”. Namun, ia memberikan satu catatan, yakni uang tersebut harus digunakan untuk berbelanja di Amerika Serikat.

“Satu-satunya catatan yang saya punya adalah dividen yang kami berikan harus dibelanjakan di Amerika Serikat,” ujarnya, seperti dikutip Newsweek, Kamis (10/9/2026).

Trump tidak menjelaskan secara rinci mekanisme pembayaran maupun sumber pendanaan program tersebut.

Jika seluruh warga dewasa AS menerima USD5.000, total anggaran yang dibutuhkan berpotensi mencapai lebih dari USD1 triliun. Besarnya kebutuhan dana ini menjadi salah satu pertanyaan utama terkait rencana yang disampaikan Trump.

Trump selama ini berulang kali mengeklaim bahwa kebijakan tarif dan investasi asing telah meningkatkan aliran dana ke Amerika Serikat. Ia sebelumnya juga mengeklaim lebih dari USD20 triliun investasi baru akan masuk ke AS.

Sementara itu, pejabat Departemen Keuangan AS memperkirakan penerimaan negara dari tarif dapat mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun.

Dalam pidatonya, Trump juga membanggakan kebijakan energi pemerintahannya, termasuk kesepakatan minyak terbaru dengan Venezuela.

Trump menyebut kesepakatan tersebut memberikan Washington kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela. Ia kemudian melontarkan candaan mengenai besarnya potensi minyak di negara Amerika Selatan tersebut.

“Anda tahu bagaimana Exxon dan Chevron… mereka menghabiskan jutaan dan jutaan dolar untuk peralatan, pergi ke seluruh dunia untuk mencari minyak, tetapi tidak menemukannya,” kata Trump.

“Di Venezuela, Anda melihat tanah dan melihat tanah yang basah kuyup oleh minyak, lalu Anda berkata, ‘Mari kita bangun rig kita tepat di sana’,” lanjutnya.

Trump juga melontarkan candaan mengenai rencana mengganti nama Selat Hormuz dengan namanya sendiri ketika membahas perang AS-Israel yang masih berlangsung melawan Iran.

“Kita seharusnya menyebut Selat Hormuz sebagai Selat Trump! Saya harus mendapatkan sesuatu dari ini. Selat Trump!” ujar Trump.

“Saya yakin para pemimpin Iran akan sangat senang dengan hal itu!” tambahnya.

Trump kembali menegaskan klaimnya bahwa konflik dengan Iran akan berakhir dan harga minyak akan turun setelah pemilu sela AS.

Pernyataan tersebut sekaligus mengaitkan kebijakan luar negeri dan energi pemerintahannya dengan pemungutan suara yang akan digelar pada November.

Dalam pidatonya, Trump juga meminta para pendukungnya menganggap dirinya seolah-olah kembali berada dalam surat suara pemilu.

“Dalam 55 hari, warga Amerika akan pergi ke tempat pemungutan suara dalam salah satu pemilu paling penting dalam sejarah negara kita,” katanya.

“Ketika saya ada di surat suara, Partai Republik selalu tampil baik,” lanjut Trump.

“Saya meminta kalian berpura-pura bahwa saya ada di surat suara… sekali lagi,” ujarnya.

Konvensi Partai Republik yang berlangsung selama dua hari di Dallas tersebut digagas Trump sebagai ajang konsolidasi dan kampanye menjelang pemilu sela.

Konvensi ini juga menjadi yang pertama digelar Partai Republik di luar tahun pemilihan presiden. Trump dijadwalkan kembali hadir pada Kamis waktu setempat untuk menyampaikan pidato penutup.(*)