SULSELONLINE.COM – Di tengah semangat yang kembali menyala, Timnas Indonesia bersiap menantang kutukan sejarah. Laga kesembilan kualifikasi Piala Dunia 2026 putaran ketiga Grup C, Kamis (5/6/2025), akan menjadi momen penentuan—bukan sekadar skor, tapi martabat yang dipertaruhkan. Di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), skuad Garuda ingin mematahkan rantai panjang tanpa kemenangan atas Tiongkok, yang telah mengikat selama 38 tahun.
Terakhir kali Indonesia menundukkan Tiongkok terjadi pada 20 Februari 1987, di ajang Piala Raja Thailand. Kala itu, Garuda terbang tinggi dengan skor 3-1. Sejak saat itu, sepuluh laga berlalu tanpa kemenangan—delapan kekalahan dan dua hasil imbang, termasuk pertemuan terakhir 15 Oktober 2024 di Qingdao, saat Indonesia kalah tipis 1-2.
Namun kini, angin mulai berembus berbeda. Garuda memiliki modal percaya diri—bermain di hadapan puluhan ribu suporter di rumah sendiri, dan performa apik dalam tiga laga terakhir: dua kemenangan yang mempertebal asa.
Dari sisi statistik, Indonesia unggul dalam produktivitas. Delapan gol sudah tercipta, meski kebobolan 14 kali. Sementara China baru mencetak enam gol dan kemasukan 19. Klasemen sementara pun menunjukkan posisi Garuda lebih tinggi: urutan keempat dengan sembilan poin, unggul tiga angka dari China di posisi juru kunci.
Menerobos Luka Lama: Prediksi Susunan Garuda
Pelatih Patrick Kluivert, yang mencatat kemenangan perdananya melawan Bahrain Maret lalu, diprediksi tetap dengan formasi 3-4-3 andalannya. Namun absennya Maarten Paes, Marselino Ferdinan, dan Ragnar Oratmangoen membuat wajah lini utama harus berganti.
Emil Audero, dengan pengalamannya di Serie A, akan menjaga gawang. Tiga bek tangguh—Jay Idzes, Rizky Ridho, dan Justin Hubner—siap jadi tameng utama. Di sisi sayap, Kevin Diks dan Calvin Verdonk akan menyisir garis dengan disiplin dan keberanian.
Di lini tengah, duet cair Thom Haye dan Joey Pelupessy akan kembali mengatur tempo permainan. Di depan, Ole Romeny menjadi ujung tombak harapan setelah mencetak dua gol dalam dua laga. Absennya Marselino dan Ragnar membuka ruang bagi Egy Maulana Vikry dan Yakob Sayuri—dua bintang Liga 1 dengan catatan gemilang: masing-masing menyumbang belasan gol dan assist musim ini.
Persiapan Lebih Panjang, Chemistry yang Lebih Dalam
Untuk laga ini, Timnas memiliki waktu persiapan yang lebih panjang. Training Camp dimulai sejak 26 Mei di Bali, lalu dilanjutkan di Jakarta. Latihan resmi dimulai 2 Juni, memberi waktu cukup untuk membangun fisik dan kekompakan tim.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut suasana tim sangat positif. “Saya belum pernah melihat aura seperti sekarang. Chemistry mulai terbentuk, bahkan di luar latihan mereka saling mendukung,” ujarnya pada 2 Juni lalu. Perayaan ulang tahunnya yang dirayakan bersama para pemain pun menjadi bukti ikatan emosional yang makin kuat.
Laga Penentuan di Tengah Asa dan Luka
Dengan dua laga tersisa, Garuda masih punya peluang mengamankan posisi lebih tinggi. Indonesia kini mengoleksi sembilan poin, hanya tertinggal satu poin dari Arab Saudi dan empat poin dari Australia. Jepang masih memuncaki klasemen dengan 20 poin.
Pertemuan kontra China bukan sekadar laga kualifikasi. Ini adalah duel antara sejarah dan harapan, antara trauma masa lalu dan kemungkinan baru. Dan di tanah sendiri, di hadapan suar dan nyanyian puluhan ribu jiwa, Garuda ingin terbang lebih tinggi—mengoyak langit yang dulu terlalu jauh dijangkau.(*)

Tinggalkan Balasan