MAKASSAR — Dua partai politik besar di Sulawesi Selatan mulai memanaskan mesin politik jauh sebelum Pemilu 2029. Partai NasDem memilih mengonsolidasikan kekuatan internal, sementara Partai Golkar mengintensifkan safari politik ke daerah-daerah.
Langkah kedua partai menunjukkan satu arah yang sama: memperkuat basis dan mengamankan suara di Sulsel menuju kontestasi politik 2029.
NasDem Sulsel dijadwalkan menggelar bimbingan teknis (bimtek) sekaligus konsolidasi besar-besaran di Hotel Claro Makassar, Sabtu (29/8/2026). Forum tersebut akan mempertemukan 159 anggota fraksi legislatif, kepala daerah kader NasDem, serta 24 Ketua DPD NasDem kabupaten/kota se-Sulsel.
Sekretaris DPD NasDem Sulsel Andi Rachmatika Dewi mengatakan konsolidasi merupakan bagian dari persiapan menghadapi tahun-tahun politik 2029 sekaligus memperkuat struktur partai.
“Ya, kita kembali melaksanakan konsolidasi. Ini dalam rangka persiapan menjelang tahun-tahun politik 2029, sekaligus membahas kesiapan struktur serta tantangan ke depan yang diprediksi akan makin dinamis,” kata Cicu di Gedung DPRD Sulsel, Kamis (27/8/2026).
Konsolidasi NasDem menjadi penting setelah partai besutan Surya Paloh itu mencatat lonjakan elektoral pada Pemilu 2024. NasDem mengamankan 159 kursi DPRD se-Sulsel, terdiri atas 142 kursi di tingkat kabupaten/kota dan 17 kursi DPRD Sulsel.
Perolehan 17 kursi di DPRD Sulsel membuat NasDem menggeser Golkar yang meraih 14 kursi. NasDem pun mendapatkan kursi Ketua DPRD Sulsel periode 2024–2029 yang kini ditempati Andi Rachmatika Dewi.
Kekuatan NasDem juga tersebar di daerah. Sebanyak 10 kadernya menduduki posisi ketua DPRD dan sembilan lainnya menjadi wakil ketua DPRD di Sulsel. Sejumlah kepala daerah kader NasDem juga akan hadir dalam konsolidasi, di antaranya Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau, Wali Kota Parepare Tasming Hamid, Bupati Pinrang Andi Irwan Hamid, Bupati Jeneponto Paris Yasir, dan Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam.
Namun, NasDem menyadari keunggulan elektoral tersebut belum cukup untuk menghadapi Pemilu 2029. Konsolidasi hingga tingkat akar rumput dinilai tetap diperlukan untuk menjaga soliditas dan memperluas basis dukungan.
Forum tersebut juga akan membahas sejumlah isu strategis, termasuk Putusan MK Nomor 128/PUU-XXIV/2026 terkait kewajiban minimal 30 persen keterwakilan perempuan di setiap daerah pemilihan.
Kehadiran Wasekjen DPP NasDem Nining Indra Saleh juga membuka kemungkinan pembahasan pemetaan calon legislatif sejak dini.
“Bisa jadi (membahas pencalegan dini), karena ada pengurus dari DPP NasDem yang hadir langsung,” ujar Cicu.
Golkar Tempuh Jalur Safari
Di sisi lain, Golkar Sulsel memilih pendekatan berbeda. Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel terpilih Ilham Arief Sirajuddin (IAS) menggenjot roadshow ke sejumlah daerah untuk bertemu langsung dengan pengurus dan kader.
Roadshow tahap kedua IAS menyasar sembilan daerah. Agenda dimulai dari Soppeng pada Jumat (21/8/2026), kemudian berlanjut ke Bone, Sinjai, Bulukumba, Selayar, hingga Bantaeng.
Safari politik itu dilanjutkan pada Minggu (30/8/2026) dengan mengunjungi Jeneponto, Takalar, dan Gowa.
Sebelumnya, roadshow tahap pertama setelah IAS terpilih telah menjangkau 13 kabupaten/kota, yakni Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Tana Toraja, Luwu Utara, Luwu Timur, Palopo, Luwu, Wajo, dan Sidrap.
Dengan demikian, hampir seluruh bentang wilayah Sulsel mulai disentuh kembali oleh kepengurusan baru Golkar.
Langkah IAS tidak sekadar silaturahmi administratif. Pertemuan langsung dengan kader di daerah menjadi cara untuk menghidupkan kembali jaringan partai sekaligus memetakan kekuatan politik menjelang 2029.
Berebut Basis, Bukan Sekadar Struktur
NasDem dan Golkar kini berada dalam situasi politik yang menarik. Golkar merupakan salah satu kekuatan tradisional Sulsel, tetapi Pemilu 2024 menunjukkan NasDem mampu merebut posisi teratas dalam perolehan kursi DPRD provinsi.
Karena itu, persiapan menuju 2029 berpotensi menjadi pertarungan mempertahankan sekaligus merebut kembali basis suara.
NasDem memiliki modal berupa peningkatan jumlah kursi dan jaringan kepala daerah serta legislator yang luas. Golkar, di sisi lain, memiliki jaringan organisasi yang telah mengakar dan kini tengah kembali digerakkan melalui safari IAS.
Dua strategi tersebut memperlihatkan bahwa perebutan suara Sulsel untuk Pemilu 2029 sesungguhnya telah dimulai. NasDem memilih memperkuat konsolidasi struktur dan memanfaatkan modal elektoral yang sudah dimiliki, sedangkan Golkar berupaya menghidupkan kembali mesin partai dengan turun langsung ke daerah.
Jika pola ini terus berlanjut, Sulsel berpotensi menjadi salah satu medan persaingan penting kedua partai dalam memperebutkan kursi legislatif sekaligus memperkuat pengaruh politik pada Pemilu 2029.(lim)

Tinggalkan Balasan