Maros – Dinas Pertanian Kabupaten Maros memantau pembangunan jaringan irigasi tersier yang tersebar di lima kecamatan. Dari total 20 unit yang dikerjakan melalui pola swakelola kelompok tani, progres fisik secara keseluruhan dilaporkan telah mencapai sekitar 80 persen.
Pemantauan dilakukan agar pembangunan berjalan sesuai rencana sekaligus mendukung kelancaran distribusi air ke lahan pertanian, terutama di tengah musim kemarau panjang. Dalam keterangannya saat pemantauan, perwakilan Dinas Pertanian Maros menyebutkan bahwa pembangunan jaringan irigasi tersier tahap kedua tersebut tersebar di Kecamatan Cendrana, Maros Baru, Lau, Bantimurung, dan Tanralili.
Sejumlah titik telah selesai hingga 100 persen. Namun, masih terdapat lokasi yang membutuhkan penyelesaian, termasuk jaringan irigasi yang dikerjakan Kelompok Tani Sipatuo di Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, dengan progres fisik sekitar 95 persen. Pihak Dinas Pertanian berharap seluruh pekerjaan dapat dituntaskan paling lambat akhir November 2026, sebelum dilanjutkan dengan penyusunan laporan pertanggungjawaban kegiatan.
“Harapan kami di Dinas Pertanian, akhir bulan 11 sudah selesai semua,” ujar Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sapras) Dinas Pertanian Kabupaten Maros, Syamsul Bahri, Rabu 14 Oktober 2026.
Meski pembangunan menunjukkan perkembangan positif, pelaksanaan pembangunan tidak sepenuhnya berjalan tanpa hambatan. Musim kemarau panjang menjadi salah satu kendala yang dihadapi kelompok tani, terutama dalam memenuhi kebutuhan air untuk pekerjaan konstruksi dan betonisasi saluran.
Jaringan irigasi yang dibangun tersebut dirancang untuk mendukung distribusi air dari jaringan irigasi induk dan sekunder, termasuk yang bersumber dari Daerah Irigasi Bantimurung. Melalui pola swakelola, kelompok tani diberikan peran dalam merencanakan, melaksanakan, serta melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pekerjaan yang mereka kerjakan.
Syamsul Bahri berharap keberadaan jaringan irigasi tersier dapat memperluas jangkauan aliran air hingga ke bagian tengah hamparan sawah yang selama ini belum terlayani secara optimal. “Dengan distribusi air yang lebih merata, petani diharapkan tidak lagi terlalu bergantung pada penggunaan pompa untuk mengairi lahan pertanian” jelasnya.
Manfaat pembangunan jaringan irigasi tersier mulai dirasakan oleh kelompok tani di Kelurahan Soreang, Kecamatan Lau. Ketua Kelompok Tani Julukana, Abdul Rahman, mengatakan pembangunan saluran irigasi tersier di wilayahnya telah dikerjakan selama kurang lebih empat minggu, dengan panjang saluran mencapai 153 meter.
Menurutnya, jaringan baru tersebut diproyeksikan melayani sekitar 54 hingga 56 hektare lahan pertanian dari total hamparan sawah seluas 86 hektare. “Pembangunan irigasi tersier ini kami kerjakan sekitar empat minggu yang lalu, sepanjang 153 meter,” kata Abdul Rahman Kamis 15 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, kelompok tani yang dipimpinnya memiliki sekitar 70 anggota. Selama ini, petani di wilayah tersebut menjalankan dua musim tanam, yakni musim rendeng pada Desember hingga April dan musim gadu pada April hingga Agustus.
Abdul Rahman menyebutkan, hamparan sawah seluas 86 hektare di wilayah kelompoknya selama ini mampu menghasilkan sekitar 500 ton gabah kering panen dalam satu musim, berdasarkan perkiraan yang disampaikannya. Meski pembangunan saluran baru memberikan tambahan jangkauan pengairan, Abdul Rahman menilai masih diperlukan pembangunan lanjutan agar distribusi air dapat menjangkau seluruh hamparan sawah.
Ia menyebutkan, jaringan irigasi yang telah dibangun sebelumnya memiliki panjang sekitar 300 meter. Sementara itu, masih dibutuhkan tambahan saluran sekitar 800 meter untuk mencapai bagian ujung hamparan.
“Kami sangat berharap semoga ada kelanjutan dari program jaringan irigasi tersier ini sehingga bisa mencapai ujung sana,” ujarnya.
Menurut Abdul Rahman, perluasan jaringan tersebut penting untuk memastikan semakin banyak lahan pertanian mendapatkan pasokan air secara memadai. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Gubernur Sulawesi Selatan, Bupati Maros, serta jajaran Dinas Pertanian atas dukungan terhadap pembangunan jaringan irigasi tersier di wilayahnya.
Di sisi lain, Dinas Pertanian Maros berharap pembangunan infrastruktur pengairan tersebut dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Berdasarkan informasi yang diterima dari sejumlah ketua kelompok tani, produktivitas yang sebelumnya berkisar 5,5–6 ton per hektare diharapkan meningkat hingga 6,5 ton per hektare.
Target tersebut diharapkan dapat dicapai seiring dengan semakin baiknya distribusi air, bertambahnya cakupan lahan terairi, dan berkurangnya ketergantungan petani terhadap pompa air. Penyelesaian seluruh pekerjaan sesuai target akhir November 2026 menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan manfaat pembangunan dapat segera dirasakan petani secara lebih luas.(*)

Tinggalkan Balasan