SULSELONLINE.COM – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Kamboja melonjak tajam sejak konflik di Timur Tengah memanas. Kenaikan ini dipicu eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang berdampak langsung pada pasar energi global.

Harga bahan bakar jenis solar di negara tersebut bahkan dilaporkan meningkat hingga dua kali lipat sejak akhir Februari. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan petani, terutama menjelang musim tanam.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Kamboja, harga solar tercatat mencapai 7.500 riel per liter pada Rabu (1/4/2026), setara sekitar Rp30.500. Angka ini naik dari 7.200 riel sehari sebelumnya, dan melonjak signifikan dari 3.750 riel per liter pada akhir Februari.

Lonjakan harga ini terjadi setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Konflik tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan gas dunia, sekaligus memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi, khususnya di kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor.

Tak hanya solar, harga bensin di Kamboja juga mengalami kenaikan signifikan. Sebagai negara yang sepenuhnya bergantung pada impor energi, pemerintah setempat menerapkan pembatasan harga untuk menjaga stabilitas pasar domestik.

Dampak kenaikan ini mulai dirasakan langsung oleh petani, terutama di wilayah sentra produksi padi. Bun Thoeun (71), seorang petani di Provinsi Battambang, mengaku biaya operasional pertanian melonjak tajam akibat mahalnya harga solar.

Ia menyebut tarif sewa traktor untuk membajak sawah hampir dua kali lipat, dari 80.000 riel menjadi 150.000 riel. Sementara itu, aktivitas membajak dijadwalkan mulai berlangsung pada Mei mendatang.

Selain digunakan untuk traktor, solar juga menjadi bahan bakar utama untuk pompa air dalam mengairi sawah. Para petani pun berharap kondisi cuaca dapat membantu meringankan beban biaya produksi.

“Kami berharap akan ada banyak hujan; itu akan membantu,” ujarnya.(*)

Rincian harga BBM di Kamboja:

* Solar: 7.500 riel per liter (sekitar Rp30.500), sebelumnya 3.750 riel pada akhir Februari
* Bensin: 5.450 riel per liter (sekitar Rp21.000), sebelumnya sekitar 3.750 riel pada akhir Februari