SULSELONLINE.COM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan konflik militer dengan Iran masih jauh dari selesai. Pernyataan itu disampaikan di tengah sikap keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menolak tawaran terbaru Teheran untuk mengakhiri perang.

Dalam wawancara eksklusif program 60 Minutes, Netanyahu mengatakan masih banyak ancaman yang harus ditangani, mulai dari uranium yang diperkaya, fasilitas pengayaan nuklir, hingga rudal balistik dan kelompok proksi yang didukung Iran.

“Masih ada materi nuklir dan situs pengayaan yang harus dibongkar. Masih ada proksi dan rudal balistik yang ingin mereka produksi,” ujar Netanyahu.

Saat ditanya mengenai langkah AS dan Israel untuk mengambil materi nuklir Iran, Netanyahu menjawab singkat, “Anda masuk ke sana, dan Anda mengambilnya.”

Sikap keras Netanyahu sejalan dengan Presiden Donald Trump yang menolak proposal balasan Iran terkait kesepakatan damai. Melalui platform Truth Social, Trump menyebut tawaran Teheran “sangat tidak bisa diterima”.

Penolakan tersebut muncul jelang rencana kunjungan Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping.

Konflik Iran-Israel turut berdampak pada ekonomi global setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur utama distribusi energi dunia. Penutupan itu memicu lonjakan harga energi dan bahan bakar, termasuk di Amerika Serikat.

Laporan The Wall Street Journal menyebut proposal terbaru Iran belum memenuhi tuntutan utama Washington terkait program nuklir. Iran menolak menghancurkan fasilitas nuklirnya, namun bersedia mengencerkan sebagian uranium dan mengirim sisanya ke negara ketiga dengan syarat uranium dikembalikan jika AS keluar sepihak dari perjanjian.

Teheran juga setuju menghentikan pengayaan uranium, tetapi hanya untuk jangka waktu lebih singkat dibanding syarat 20 tahun yang diajukan AS. Selain itu, Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz untuk jalur perdagangan jika AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Hingga kini, upaya mediasi yang melibatkan Pakistan belum membuahkan hasil. Sementara itu, AS tetap menuntut penghentian total program nuklir Iran sebagai syarat utama tercapainya kesepakatan damai.(*)