SULSELONLINE.COM, MAROS – Pemerintah Kabupaten Maros memperkuat Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, yayasan, organisasi, hingga masyarakat untuk mempercepat penurunan angka stunting. Langkah tersebut ditempuh setelah Maros berhasil menekan prevalensi stunting menjadi 12,5 persen berdasarkan hasil pengukuran 2025 yang dirilis pada 2026.
Penguatan program tersebut disampaikan dalam sosialisasi GENTING yang dipimpin langsung Bupati Maros, Andi Syafril Chaidir Syam. Kegiatan itu dihadiri perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, jajaran OPD, camat, kepala puskesmas, penyuluh KB, pemerintah desa dan kelurahan, perusahaan, yayasan, serta berbagai mitra pembangunan.
Bupati Maros Andi Syafril Chaidir Syam mengatakan capaian penurunan stunting tidak terlepas dari kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, strategi yang telah berhasil akan kembali diperkuat melalui Gerakan Orang Tua Asuh agar semakin banyak pihak terlibat mendampingi anak-anak dan keluarga berisiko stunting.
“Alhamdulillah, capaian ini merupakan hasil kerja bersama. Strategi yang telah berhasil akan kembali kita terapkan dengan memperkuat Gerakan Orang Tua Asuh agar semakin banyak pihak terlibat mendampingi anak-anak dan keluarga yang berisiko stunting,” ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Syafril menegaskan penanganan stunting ke depan tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga memastikan setiap anak mendapatkan pendampingan sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Karena itu, intervensi harus dilakukan secara terarah melalui data yang akurat, pendampingan keluarga secara rutin, serta komitmen lintas sektor yang berkelanjutan.
Ia mengajak seluruh camat, kepala desa, lurah, kepala puskesmas, perusahaan, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat untuk menjadi orang tua asuh bagi keluarga yang membutuhkan.
“Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar peluang kita melahirkan generasi Maros yang sehat, cerdas, dan berkualitas sebagai fondasi Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Syafril juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang menyebut ikan bandeng berbahaya dikonsumsi. Ia memastikan hasil penelitian menunjukkan bandeng asal Maros aman, sehat, dan layak dikonsumsi sehingga tetap menjadi salah satu sumber protein terbaik untuk mencegah stunting.
Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Sitti Sulfiani, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Maros yang berhasil menghimpun berbagai mitra strategis melalui GENTING.
“Maros menunjukkan komitmen yang sangat baik. Saat ini Maros berada pada peringkat keempat dengan angka stunting terendah di Sulawesi Selatan. Harapan kami, kolaborasi ini terus diperkuat sehingga angka stunting semakin cepat menurun,” katanya.
Sementara itu, Kepala DP2KBP3A Kabupaten Maros, Muh. Haris, mengatakan hasil sosialisasi akan segera ditindaklanjuti oleh sekitar 906 Tim Pendamping Keluarga (TPK) bersama penyuluh KB yang tersebar di 14 kecamatan. Mereka akan melakukan edukasi, pendampingan, serta memastikan keluarga berisiko stunting memperoleh intervensi yang tepat sasaran.
Meski tren stunting di Maros terus menurun, pemerintah daerah tetap memprioritaskan pendampingan di wilayah dengan angka kasus yang masih relatif tinggi, seperti Kecamatan Mandai dan Bantimurung. Penguatan intervensi di wilayah tersebut diharapkan mampu mendukung pencapaian target penurunan stunting Kabupaten Maros pada 2026.(*)

Tinggalkan Balasan