SULSELONLINE.COM — Bupati Maros, H.A.S Chaidir Syam membuka kegiatan Deklarasi Gerakan Ayo Kuliah (GAK) Stop Perkawinan Anak di Baruga A Kantor Bupati Maros, Kamis 22 April 2021.

Ia menyampaikan mengapresiasi gerakan ayo kuliah yang digagas oleh Lembaga Peningkatan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) bekerjasama dengan Program Keluarga Harapan (PKH).

Menurutnya, kegiatan ini menjadi bentuk mencegah dan melindungi serta tidak membiarkan terjadinya perkawinan anak.

“Bukan hal yang mudah bagi SDM PKH untuk mengajak anak-anak masuk ke bangku kuliah. Bukan hanya dari tingkat kesejahteraan, pola pikir orang tuapun yang berpikir anak perempuan tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi sangat menjadi penghambat,” ujarnya, Jumat (23/4/2021).

Dengan inovasi ini, diharapkan di masa mendatang, dengan melanjutkan kuliah ada peluang mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

“Dan kita bisa turut berkontribusi memutus warisan kemiskinan antar generasi. Dengan mereka berkuliah ini menjadi pintu terakhir dalam penuntasan kemiskinan di kabupaten Maros. Karena target yang kita dampingi ini berasal dari keluarga prasejahtera. Selain menekan angka kemisminan ini juga sebagai sarana untuk mereka meningkatkan kualitas diri. Serta kedepannya dapat melahirkan anak yang baik dan cerdas,” paparnya.

Melalui kegiatan ini Pemerintah Kabupaten Maros berharap dapat memberikan pandangan-pandangan untuk kedepannya angka pernikahan dini dapat semakin ditekan.

Berdasarkan proposisi perempuan 20-24 tahun yang berstatus kawin sebelum umur18 tahun, kabupaten Maros berada pada persentase 12,4%.

Kepala Dinas Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Maros, Idrus yang turut hadir juga menjelaskan Terkait angka perkawinan anak.

“Berdasarkan data BPS Maros, angka perkawinan anak menurun 1,25%. Terhitung tahun 2019 angka perkawinan anak berada pada persentase 7,42% dan menurun di tahun 2020 yang tecatat sebesar 6,16%,” jelasnya.

Ia menyampaikan bahwa kasus perkawinan anak berada dikeluaga- keluarga prasejahtera. Sebagian dari mereka adalah anak-anak yang merupakan korban putus sekolah.

“Saya berharap, anak-anak yang menjadi korban putus sekolah dapat ditarik dalam penyetaraan pendidikan. Terlebih untuk anak-anak yang baru saja lulus SMA. Karena jika ia tetap putus sekolah mereka akan disuruh untuk cepat bekerja guna memenuhi kebutuhan ekonomi dan rawannya ialah dinikahkan,” tambahnya. (*)