SELAIN resesi ekonomi, ternyata ada resesi lain yang juga membuat kekhawatiran di beberapa negara, yakni resesi seks. Resesi seks ini pun kebanyak terjadi di beberapa negara Asia, khususnya di kawasan Asia Timur.
Istilah resesi seks muncul karena dilatarbelakangi fenomena penurunan aktivitas seksual di sejumlah negara. Kondisi ini lantas kerap memunculkan kekhawatiran oleh sejumlah kalangan. Pasalnya, resesi seks dapat menyebabkan penurunan angka kelahiran yang akan berimbas pada banyak sektor.
Lantas, apa itu reseksi seks? Dan apa saja faktor beberapa negara seperti Korea, Jepang, hingga China akhirnya bisa dihantui resesi seks? Berikut ulasannya, dikutip dari beberapa sumber.
1. Memiliki masalah finansial
Menikah tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Ketika sudah menjalani pernikahan dan memiliki anak, tentu biaya hidup semakin meningkat karena pengeluaran untuk menunjang hidup semakin lama semakin membesar.
Terlebih jika negara tersebut memiliki biaya hidup yang tinggi. Hal inilah yang membuat laki-laki berpendapat rendah atau reaksi merasa takut untuk runtuh ke jurang kematian.
2. Persaingan di dunia kerja semakin tinggi
Setiap orang yang sedang mengejar karir seolah ingin berlomba-lomba mengungguli dirinya di atas yang lain.
Beban pekerjaan yang ditanggung pun sudah membuatnya sibuk, sehingga keinginan untuk membina keluarga atau berhubungan seks semakin berkurang, bahkan bisa dikatakan tidak ada keinginan.
Kondisi tersebut juga disebabkan oleh stress dan lelah akibat aktivitas pekerjaan sehari-hari yang sudah berat.
3.Merasa lebih nyaman hidup sendiri
Banyak anak muda yang memilih untuk menjalani hidupnya sendiri. Faktornya pun cukup beragam.
Ada yang merasa mampu dan lebih nyaman jika tanpa pasangan, ingin fokus menata karir, atau adanya permasalahan di masa lalu yang membuatnya enggan membangun hubungan dengan orang lain.
Banyaknya kasus kegagalan dalam pernikahan turut menjadi faktor seseorang memilih hidup sendiri. Beragam situasi inilah yang mempengaruhi menurunnya angka pernikahan.
4. Ketidaksetaraan gender di beberapa negara
Budaya patriarki juga menjadi penyebab resesi seks bisa terjadi, lho.
Di beberapa negara, salah satunya Jepang mempunyai budaya kalau perempuan diharuskan untuk berhenti bekerja ketika hamil. Jika sudah menjadi seorang mama, maka beban mengurus anak ditanggung oleh mama saja. Sementara para laki-laki atau suami memegang kendali untuk mengatur keuangan keluarga.
Situasi ini yang bisa menurunkan minat perempuan untuk berumah tangga, apalagi jika ia ingin mengejar karier hingga sukses.
5. Perubahan iklim dan perasaan yang tidak menentu
Penyebab resesi seks dapat terjadi juga dapat dipengaruhi oleh iklim serta perasaan hati yang berubah sewaktu-waktu.
Kedua hal tersebut memberikan dorongan kepada seseorang untuk melakukan hubungan seksual. Dalam menjalani sebuah hubungan, seseorang tidak bisa mengendalikan perasaan pasangannya. Dalam artian hanya dirinya sendiri yang bisa mengatur perasaannya sendiri.
6. Keinginan pasangan untuk tidak mempunyai keturunan
Memiliki anak merupakan tugas besar bagi setiap pasangan suami istri. Banyak hal yang dikorbankan jika sudah memiliki anak. Mulai dari waktu, tenaga, material, fisik, dan hal lainnya.
Jika dalam hubungan rumah tangga ada salah satu pihak yang enggan memiliki anak, maka mereka berdua cenderung jarang berhubungan seksual.
7. Efek dari pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 memiliki peran tersendiri terkait penyebab resesi seks syang emakin marak terjadi. Alasannya karena perubahan suasana hati bisa memengaruhi penurunan gairah seksual.
Di Cina, kaum perempuan khawatir jika vaksinasi Covid-19 dapat memengaruhi perkembangan janin. Jika mereka hamil, kesulitan yang ketat seperti beraktivitas di rumah pun menyulitkan kaum perempuan saat menjalani masa-masa kehamilannya dan merawat bayinya.
Beberapa negara di Asia mulai mengimbau masyarakatnya untuk mengurangi penggunaan gadget yang dinilai menjadi pengaruh penurunan keintiman. Ini dilakukan sebagai usaha meningkatkan keintiman untuk melakukan aktivitas seksual.

Tinggalkan Balasan