SULSELONLINE.COM — Mantan Menteri Departemen Penerangan (sekarang Kementerian Komunikasi dan Informatika) Harmoko meninggal dunia. Dia meninggal dunia pada Minggu (4/7/2021) malam ini.
Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mengonfirmasi kabar tersebut. Ia pun menyatakan dukacita atas wafatnya Harmoko.
“Kiranya almarhum Bapak Harmoko mantan Menteri Penerangan RI beristirahat dalam damai dan mendapat tempat yang layak dalam surga yang kekal,” kata Johnny saat dihubungi, Minggu
Mantan Ketua Umum Golkar itu meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, sekitar pukul 20.22. Belum ada informasi mengenai penyebab wafatnya Harmoko.
Kabar meninggalnya Harmoko turut dibenarkan oleh Ketua MPR Bambang Soesatyo.
“Iya benar mas (Pak Harmoko meninggal dunia),” kata Bamsoet lewat keterangan tertulis seperti dikutip dari Kompas.com.
Perjalanan Karir
Pada permulaan tahun 1960-an, setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, ia bekerja sebagai wartawan dan juga kartunis di Harian Merdeka dan Majalah Merdeka.
Seperti dikutip dari Wikipedia, Senin (5/7/2021), pada tahun 1964 ia bekerja juga sebagai wartawan di Harian Angkatan Bersenjata, dan kemudian Harian API pada 1965. Pada saat yang sama, ia menjabat pula sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko (1965).
Pada tahun berikutnya (1966-1968), ia menjabat sebagai pemimpin dan penanggung jawab Harian Mimbar Kita. Pada tahun 1970, bersama beberapa temannya, ia menerbitkan harian Pos Kota.
Sebagai menteri Penerangan, Harmoko mencetuskan gerakan Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pirsawan) yang dimaksudkan sebagai alat untuk menyebarkan informasi dari pemerintah.
Harmoko pun dinilai berhasil memengaruhi hasil pemilihan umum (Pemilu) melalui apa yang disebut sebagai “Safari Ramadhan”.
Sebagai Ketua Umum DPP Golkar, Harmoko dikenal pula sebagai pencetus istilah “Temu Kader”. Terakhir, ia menjabat sebagai Ketua DPR/MPR periode 1997-1999 yang mengangkat Soeharto selaku presiden untuk masa jabatannya yang ke-7.
Namun dua bulan kemudian Harmoko pula memintanya turun ketika gerakan rakyat dan mahasiswa yang menuntut reformasi tampaknya tidak lagi dapat dikendalikan.

Tinggalkan Balasan