SULSELONLINE.COM – Pengungsi banjir di Sulawesi Selatan membutuhkan bantuan. Mereka kini mengungsi dan mengurus diri sendiri secara mandiri.

Mereka mengungsi karena banjir melanda Sulsel akibat curah hujan yang cukup besar, Sabtu-Minggu (21-22/12/24).

Sekitar 13 kabupaten/kota di Sulsel banjir dengan ketinggian bervariasi.

Makassar tak luput dari banjir. Yang paling parah adalah Kompleks Perumahan Antang Blok 8 dan 10, Kecamatan Manggala, Makassar.

Ketinggian air mencapai atap rumah warga. Masjid yang menjadi tempat pengungsian, telah penuh oleh pengungsi. Sebagian dari mereka terpaksa mendirikan tenda darurat secara mendiri.

Sayangnya, berdasarkan pengakuan warga, bantuan makanan dan minuman terpusat di posko induk. Sementara tenda-tenda warga yang didirikan secara mendiri, belum tersentuh bantuan.

Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel, 13 daerah yang memiliki titik banjir yakni, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Bone, dan Sinjai.

Di Maros contohnya, sebanyak 12 kecamatan terendam banjir. Sedangkan di Makassar banjir merendam rumah-rumah warga di Kecamatan Biringkanaya dan Manggala.

Begitu juga di Barru yang dua hari terendam banjir. Bahkan, banjir di Kabupaten Barru menyebabkan ruas jalan trans Sualwesi terputus selama beberapa jam lamanya.

Banjir di Barru dikabarkan menelan satu korban jiwa. Seorang siswa kelas 3 SD Pacciro, berinisial R (10), dilaporkan meninggal dunia setelah terseret arus deras selokan.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala BPBD Barru, Umar Sinampe yang dikonfirmasi kemarin. Ia mengungkapkan, peristiwa tragis ini terjadi saat korban bermain bersama temannya di saluran air pinggir jalan dekat jembatan dalam perjalanan pulang sekolah.

Teman korban berhasil selamat setelah berpegangan, namun R hanyut hingga terbawa ke sungai.

“Korban ditemukan tim SAR gabungan dalam kondisi meninggal dunia,” kata Kepala Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, pada Minggu (22/12).

Setelah pencarian intensif, jasad korban berhasil dievakuasi dan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

Berdasarkan data BPBD Barru, ribuan rumah warga di tujuh kecamatan di Barru, terendam banjir. Satu rumah kayu milik warga, dilaporkan hanyut terbawa arus. Puluhan kendaraan roda dua dan roda empat juga tak bisa diselamatkan.

Sepanjang hari Minggu kemarin, banjir juga dilaporkan terjadi di Camba, poros jalan dari Makassar ke Kabupaten Bone dan Soppeng.

Warga melaporkan, ketinggian air di Camba mencapai betis orang dewasa.

Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel Prof Zudan Arif Fakrulloh pun turun memantau situasi terkini di titik banjir Kabupaten Pangkep.

Prof Zudan didampingi Bupati Pangkep Yusran Lalogau datang langsung ke titik banjir. Dengan setelan jas hujan merah, mereka membawa bantuan kepada warga terdampak.

“Tanggap Darurat. Targetnya ini pertama penyelamatan warga. Kita evakuasi, beri pengertian ke warga yang rumahnya air masuk, itu lebih baik dibawa evakuasi tempat pengungsian,” kata Prof Zudan di Pangkep, Minggu (22/12).

“Saya lihat di Pangkep dapur umum sudah siap, Tagana bagus,” lanjutnya.

Prof Zudan juga mengingatkan seluruh kepala daerah di Sulsel untuk tetap bersiaga beserta jajarannya.

“Mereka agar tidak meninggalkan tempat, para kepala daerah untuk tetap berada di wilayah masing-masing menemani masyarakatnya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa laporan dari berbagai daerah menunjukkan cuaca sedang ekstrem.

Sehingga kepala daerah harus siaga dengan kondisi beberapa hari ke depan.

“Oleh karena itu, kita harus betul-betul siaga. Tahap pertama tanggap darurat adalah melakukan penyelamatan-penyelamatan, memperhatikan peta bencananya dan mengutamakan keselamatan warga,” jelasnya.

Siaga ini terkait operasi penyelamatan warga yang terdampak banjir.

Kemudian memenuhi kebutuhan masyarakat yang sedang mengungsi di masjid ataupun posko lainnya.
Banjir Makassar

Kota Makassar menjadi salah satu daerah paling parah terkena banjir, terutama di Kompleks Perumahan Antang, Blok 8, Kecamatan Manggala, Makassar.

Hingga pukul 20.00 Wita malam tadi, ketinggian air masih mencapai satu meter lebih. Bahkan, di beberapa titik, atap rumah warga, nyaris tersentuh permukaan air.

Ada puluhan rumah setempat yang terendam. Jumlah pengungsi pun kian bertambah, hingga posko pengungsian di masjid setempat tidak muat lagi.

Mereka yang tidak bisa mengungsi di masjid, pun mendirikan tenda-tenda pengungsian secara mandiri.

“Kita tidak ke masjid (posko pengungsian) karena tidak cukup, belum lagi kita lansia, anak-anak,” kata, warga Satria yang dihampiri wartawan.

Satria menjelaskan, para pengungsi di kawasan RT A dan RT B sejak Jumat lalu belum tersentuh bantuan. Padahal, jumlah pengungsi cukup banyak.

“Ini sudah beberapa hari tidak ada apa-apa (bantuan) biar air putih belum ada. Ini kami di sini banyak. Ada RT A dan B. Itu RT B 44 KK,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan warga lainnya Sitti Hasnah. Dia mengaku, saat air merendam rumahnya dirinya terpaksa mengungsi ke tempat seadanya karena kondisi posko pengungsian yang didirikan pemerintah, sudah padat.

“Biar nasi (makanan) belum ada. Banjir mulai hari Jumat pagi. Kita mengungsi disini, sementara ini itu pun sudah naik lagi air,” ucap Sitti Hasnah.

Sementara, Ketua RT 4 blok 8 Perumnas Antang, Fathiyah Bahmid mengungkapkan, pengungsi yang terdata di posko pengungsian induk (Masjid Blok 8) berjumlah 26 KK.

“Kalau di posko induk ada 109 jiwa. Itu dari RT 2, RT 6, RT 1, dan RT 4. Di sini ada lansia, anak-anak, sebagian juga sudah pindah ke rumah keluarganya,” terang Fathiyah.

Di posko induk sendiri kata Fathiyah, yang paling dibutuhkan oleh para pengungsi yakni air bersih, pakaian, hingga selimut.

“Sebenarnya ini paling dibutuhkan air minum, tapi sudah mulai ada dari kelurahan ke sini.  Kebutuhan selimut juga dengan popok yang dibutuhkan juga,” sebutnya.