DI lumbung padi ini, sawah menghijau sepanjang musim dan politik berdenyut dalam silaturahmi, Beringin sedang mencari penjaganya. Sulawesi Selatan—negeri yang tak pernah hening dalam urusan kuasa—kembali berdetak. Bukan karena angin timur atau ombak di selat Makassar, tapi karena kursi ketua DPD Golkar Sulsel kini tengah diperebutkan oleh para pendekar politik.

Dalam waktu dekat, beringin rindang akan ditentukan nasibnya. Siapa yang kelak duduk di akarnya dan menjulang di dahannya?

Munafri Arifuddin, atau yang lebih dikenal dengan Appi, bukan nama asing di Makassar. Ia bukan hanya wali kota, ia adalah pewaris darah emas keluarga besar—berani tampil, lugas bicara, dan kini menggalang dukungan dari satu daerah ke daerah lain. Roadshow-nya bukan sekadar safari politik, tapi sebuah ritual pencarian restu dari para pemilik suara di bumi Anging Mammiri.

Appi ingin naik kelas, dari Makassar menuju Sulsel. Dari wali kota menjadi ketua beringin. Ia menyemai narasi di media sosial, membangun simpul-simpul persaudaraan, merajut benang-benang kuning yang berserak di tiap pelosok. Tapi Golkar bukan hanya tentang suara mayoritas. Di dalamnya ada sejarah, loyalitas, dan kadang, drama keluarga.

Di pojok lain gelanggang, Adnan Purichta Ichsan, putra dari almarhum Ichsan Yasin Limpo, mengatur langkah dalam diam. Ia datang membawa warisan, bukan hanya darah, tapi juga pengaruh. Silaturahmi Adnan dengan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia menyalakan spekulasi. Politik di Sulsel tidak pernah sederhana. Sebuah pertemuan bisa menggetarkan arena, apalagi jika dilakukan dalam ruang privat seorang ketua umum.

Tak lama berselang, Adnan datang bertamu ke Nurdin Halid—sang mantan nakhoda beringin, politisi gaek yang selalu punya kartu di tangan. Nurdin adalah guru dari Ilham Arief Sirajuddin (IAS), dan IAS-lah yang dulu membimbing Appi saat bertarung di pilwali. Tapi di politik, guru dan murid bisa bersaing atau bersatu tergantung angin sejarah.

Yang lebih menarik, tali kekeluargaan ikut menautkan kepentingan: keluarga IAS meminang adik Adnan, Roidah Halilah Falih Ichsan. Di atas sajadah silaturahmi, kadang terbentang peta kekuasaan.

Empat nama kini mencuat: Appi, Adnan, Taufan Pawe, dan Rahman Pina.

Taufan Pawe, walikota Parepare, punya jam terbang dan jaringan, namun langkahnya kini terkesan lambat dan tak sekuat kala dulu.

Lalu muncullah nama yang berjalan dalam sunyi: Rahman Pina. Mantan wartawan, mantan aktivis, kini wakil ketua DPRD Sulsel. Ia tidak gembar-gembor, tapi mencatat semua gerak. Ia membaca peta sebelum yang lain menyadari arah mata angin.

Pina bukan kuda troya, tapi bisa jadi kuda hitam. Ia tahu bagaimana menulis berita dan kini ia tahu bagaimana menjadi berita.

Ditunjuk langsung oleh DPP sebagai wakil ketua DPRD Sulsel, Rahman diam-diam membangun jaringan lintas kabupaten. Luwes berbicara, berpengalaman di dapur kekuasaan, dan bebas dari friksi masa lalu. Dalam tubuh Golkar yang kerap penuh luka sejarah, kadang yang tidak terlalu dekat dengan masa lalu justru menjadi jembatan ke masa depan.

Pertanyaannya sekarang: Siapa yang akan memimpin Beringin Rindang di lumbung padi?

Apakah Appi, sang wali kota muda dengan kekuatan elektoral Makassar?

Ataukah Adnan, pewaris trah Ichsan Yasin Limpo yang membawa kekuatan keluarga, dan diam-diam dibimbing oleh tokoh-tokoh senior?

Atau justru Rahman Pina, si pendiam yang peka membaca suasana, yang tak banyak bicara tapi paham kapan harus bergerak?

Atau Taufan Pawe, dengan sisa kejayaannya, kembali menguji takdir?

Golkar bukan partai biasa. Ia bukan hanya organisasi, tapi jaringan rasa, kepentingan, dan sejarah. Sulawesi Selatan bukan tanah sembarangan. Ia pernah melahirkan Wapres Jusuf Kalla, tokoh besar seperti Nurdin Halid, dan dinasti Yasin Limpo.

Di atas panggung beringin, semua kemungkinan terbuka. Kadang yang tampak kuat, bisa rapuh di detik akhir. Dan yang tampak sunyi, bisa menjadi gema paling lantang di ruang Musda.

Musyawarah akan datang. Pohon beringin menanti siapa yang akan menjaganya dari badai, siapa yang akan mengantarkannya tumbuh kembali di tanah subur Sulsel.

Mari menunggu. (mursalim djafar)