SULSELONLINE.COM – Kabar rencana pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mencuat di tengah memanasnya konflik bersenjata antara Iran dan Israel. Informasi tersebut bahkan telah sampai ke telinga Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Dilansir Al Jazeera, Kamis (19/6/2025), Putin mengaku telah mendengar kabar tersebut. Namun, ia menolak memberikan tanggapan lebih lanjut mengenai klaim sensitif tersebut.

“Saya mendengar semua ini, tetapi saya bahkan tidak ingin membahasnya. Saya tidak mau,” tegas Putin saat konferensi pers bersama Presiden Tiongkok di Astana.

Putin juga menekankan bahwa jalan keluar damai masih mungkin dicapai. Ia menyerukan penghormatan terhadap kepentingan Iran dalam pengembangan “program nuklir damai”, sembari menekankan pentingnya menjamin “keamanan tanpa syarat bagi negara Yahudi.”

Isu tentang rencana pembunuhan ini sebelumnya diungkap oleh mantan Presiden AS, Donald Trump. Dalam wawancaranya awal pekan ini, Trump mengklaim telah menolak keras rencana Israel untuk membunuh Khamenei saat ia masih menjabat.

“Kami mengetahui bahwa Israel memiliki rencana untuk menyerang pemimpin tertinggi Iran. Presiden Trump menentangnya, dan kami menyampaikan kepada Israel agar tidak melanjutkannya,” ungkap seorang pejabat AS kepada AFP, Senin (16/6), dengan syarat anonim.

Namun, ketika ditanya tentang laporan tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memilih bungkam.

“Saya tidak akan membahas itu,” ujar Netanyahu dalam wawancara dengan Fox News.

“Tapi saya bisa katakan, kami akan melakukan apa yang perlu kami lakukan, dan saya pikir Amerika Serikat tahu apa yang baik untuk dirinya sendiri,” tambahnya.

Iran-Israel Membara

Sementara itu, di medan perang, eskalasi terus berlanjut. Pada Rabu malam, militer Iran meluncurkan serangan balasan besar-besaran ke wilayah utara Israel setelah serangan udara Israel menghantam pusat pengembangan rudal di Isfahan awal pekan ini.

Kementerian Pertahanan Iran mengklaim telah menembakkan lebih dari 60 rudal balistik dan drone ke sejumlah fasilitas militer Israel di Galilea dan Haifa. Israel mengonfirmasi serangan tersebut dan menyatakan telah berhasil mencegat sebagian besar proyektil dengan sistem pertahanan Iron Dome.

Namun, Kementerian Kesehatan Israel melaporkan sedikitnya 24 orang luka-luka dan dua korban jiwa akibat serangan tersebut. Ini menjadi salah satu serangan paling mematikan sejak perang terbuka dimulai pada April 2025 lalu.

Dewan Keamanan PBB telah mengadakan sidang darurat, tetapi hingga kini belum ada resolusi yang disepakati, mengingat sikap veto dari Rusia dan Tiongkok yang menolak kecaman sepihak terhadap Iran.

Ketegangan diplomatik pun meningkat, dengan Amerika Serikat memperingatkan bahwa konflik ini bisa menyebar ke kawasan Teluk dan mendorong instabilitas global, terutama di tengah upaya pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan krisis energi global.