BULAN Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah yang dimuliakan dalam Islam. Umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan, termasuk puasa sunah, di bulan ini.
Puasa Muharram memiliki keutamaan tinggi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah bulannya Allah, Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat lail (malam).” (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa di bulan Muharram secara umum sangat dianjurkan.
Hukum Puasa pada 1 Muharram
Berpuasa pada 1 Muharram adalah amalan yang dibolehkan dan termasuk dalam puasa sunah umum. Namun, penting untuk tidak mengaitkan niat puasa ini secara khusus dengan awal tahun Hijriah, karena tidak ada dalil sahih yang menganjurkan puasa khusus pada hari pertama tahun baru Islam. Beberapa hadis yang beredar mengenai hal ini justru berstatus lemah atau palsu.
Salah satu hadis yang sering disalahpahami menyebutkan:
“Barang siapa yang puasa pada akhir hari Dzulhijjah dan puasa awal tahun pada bulan Muharram, maka dia telah menutup akhir tahun dengan puasa dan membuka awal tahunnya dengan puasa. Semoga Allah menghapuskan dosanya selama lima puluh tahun.”
Para ulama ahli hadis menyatakan bahwa hadis ini tidak sahih, bahkan dianggap maudhu’ (palsu). Oleh karena itu, hadis ini tidak bisa dijadikan dasar untuk ibadah puasa awal tahun secara khusus.
Yang perlu diingat adalah seluruh hari di bulan Muharram memiliki keutamaan untuk berpuasa, sesuai dengan hadis sahih dari Nabi SAW.
Kapan Dianjurkan Puasa Muharram?
Meskipun seluruh bulan Muharram dianjurkan untuk berpuasa, ada hari-hari tertentu yang lebih diutamakan, yaitu Hari Asyura yang bertepatan dengan 10 Muharram.
Dalam hadis dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW begitu semangat berpuasa, melebihi puasa di hari Asyura dan bulan Ramadan.” (HR Bukhari)
Keutamaan puasa Asyura berakar dari peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dan mendapati orang Yahudi berpuasa pada 10 Muharram. Mereka menjelaskan bahwa itu adalah hari di mana Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari Firaun. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian,” lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk ikut berpuasa (HR Bukhari dan Muslim).
Untuk membedakan dengan amalan umat Yahudi, Nabi SAW juga menganjurkan untuk menambahkan puasa sehari sebelum atau sesudahnya (yaitu 9 atau 11 Muharram). Namun, puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram (Tasu’a dan Asyura) dianggap lebih utama dibandingkan puasa pada 10 dan 11 Muharram.(*)

Tinggalkan Balasan