SULSELONLINE.COM – Duka mendalam menyelimuti keluarga Syafaruddin, seorang tukang ojek asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang menjadi korban kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Puncak Jaya, Papua Tengah. Syafaruddin ditemukan tewas secara tragis di dasar jurang sedalam 500 meter, dengan luka mengerikan di tubuhnya.

Peristiwa memilukan itu terjadi pada Sabtu (12/7/2025) di kawasan pegunungan Distrik Wanwi. Polisi menduga kuat pelaku pembunuhan merupakan KKB pimpinan Lekagak Telenggen.

“Korban dinyatakan meninggal dunia. Diduga mengalami penganiayaan menggunakan senjata tajam. Jasadnya kemudian dibuang ke dalam jurang,” kata Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani.

Faizal menyebut jenazah Syafaruddin terakhir terlihat pada Jumat (11/7) dan ditemukan keesokan harinya dalam kondisi mengenaskan. “Bagian kepala dan kaki korban mengalami luka serius. Setelah proses medis di RSUD Mulia, jenazah akan dipulangkan ke kampung halaman di Makassar,” ungkapnya.

Menurut Faizal, peristiwa ini kembali menegaskan perlunya kehadiran aparat negara secara konsisten di wilayah rawan seperti Puncak Jaya. “Kami akan tindak tegas pelaku dan memastikan kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Jenazah Syafaruddin tiba di rumah duka, Jalan Poros Pallangga, Kelurahan Tetebatu, Kecamatan Pallangga, Gowa, Senin (14/7) sekitar pukul 13.00 Wita. Suasana haru menyelimuti prosesi penyambutan. Tangis keluarga pecah saat jenazah diturunkan dari ambulans.

Istri korban, Andi Nurul Inzana, menceritakan duka mendalam saat mendapati kabar sang suami telah tiada. Ia mengaku suaminya sempat dilaporkan hilang sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

“Dia biasanya pulang paling lambat jam 5 sore. Tapi malam itu tidak ada kabar. Akhirnya besok pagi kami melapor ke Polsek. Sampai akhirnya jam 11 siang, kabar duka itu datang,” ujar Nurul sambil menahan tangis.

Nurul menggambarkan kondisi jenazah suaminya berdasarkan laporan dari keluarga di Papua. “Dari hasil autopsi, ada luka bacok di leher, dada, kaki, dan luka tembak di kepala. Juga luka busur di bagian dada,” jelasnya dengan suara bergetar.

Syafaruddin telah bekerja sebagai tukang ojek di Papua selama tiga tahun. Meski jauh dari keluarga, ia rutin pulang ke kampung halamannya di Gowa setiap ada kesempatan.

“Terakhir dia pulang bulan Desember 2024, lalu kembali ke Papua pertengahan Januari,” kenang Nurul.

Di mata sang istri, almarhum adalah sosok pekerja keras dan sangat mencintai keluarganya. “Dia orangnya dingin, tapi hatinya hangat. Apa pun selalu diusahakan untuk kebahagiaan saya dan anak-anak,” tutur Nurul.

Kini, Syafaruddin meninggalkan seorang istri dan empat anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan bimbingan seorang ayah. Anak tertuanya duduk di kelas 3 SMA, sedangkan si bungsu baru berusia 4 tahun.

“Yang pertama perempuan, kelas tiga SMA. Yang kedua laki-laki, kelas dua SMP. Ketiga kelas tiga SD. Yang bungsu baru 4 tahun, belum sekolah,” ucap Nurul dengan mata sembab.(*)