MAKASSAR – Peta politik Sulawesi Selatan mulai bergerak. Dua figur sentral yang pernah menjadi poros kekuasaan di pemerintahan Provinsi Sulsel—Prof Nurdin Abdullah dan Abdul Hayat Gani—kembali bertemu dalam satu barisan. Namun kali ini bukan di pemerintahan, melainkan dalam panggung politik elektoral: Partai Perindo.
Prof Nurdin Abdullah, mantan Gubernur Sulsel periode 2018–2021, resmi menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Sementara Abdul Hayat Gani, mantan Sekretaris Provinsi yang dulu mendampingi Nurdin saat menjabat gubernur, kini memimpin Partai Perindo Sulsel sebagai Ketua DPW.
Pertemuan keduanya dalam acara Temu Kader DPW Perindo Sulsel di Kantor DPW Jalan Perintis Kemerdekaan, Rabu (6/8/2025), menjadi sinyal politik penting. Suasana yang hangat di balik layar menunjukkan arah konsolidasi kekuatan yang sedang dibangun di internal partai menjelang siklus politik 2029.
Reuni politik ini memiliki sejarah panjang. Nurdin dan Abdul Hayat pernah menjadi duet strategis dalam pemerintahan Sulsel usai memenangkan Pilgub 2018. Namun, keduanya harus berpisah di tengah jalan: Nurdin tersandung kasus hukum pada 2021, sementara Abdul Hayat dicopot sebagai Sekprov oleh penggantinya, Andi Sudirman Sulaiman.
Kini, keduanya kembali satu panggung di bawah bendera Perindo. Plt Ketua DPW Perindo Sulsel, Abdul Hayat Gani, menyebut kehadiran Prof Nurdin sebagai suntikan energi politik bagi konsolidasi internal.
“Ini bukan sekadar reuni, tapi momentum strategis untuk memperkuat soliditas kader di Sulsel dan membesarkan Perindo dalam jangka panjang,” kata Abdul Hayat.
Di hadapan ratusan kader dan pengurus DPW hingga DPD se-Sulsel, Nurdin Abdullah menegaskan pentingnya kerja kolektif dan arah perjuangan politik yang berpihak kepada rakyat.
“Kebersamaan ini adalah fondasi untuk memperkuat gerakan politik yang inklusif dan berbasis kerja nyata. Saya yakin Sulsel akan jadi etalase kekuatan Perindo ke depan,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri CEO PT Duta Politik Indonesia, Dedi Alamsyah. Dalam keterangannya, Dedi melihat dinamika internal Perindo sebagai modal besar yang harus dimanfaatkan secara strategis.
“Perindo punya jejak yang kuat di Sulsel. Pada Pemilu 2019, partai ini berhasil memperoleh 24 kursi. Program-program seperti UMKM Perindo harus kembali dihidupkan sebagai identitas perjuangan partai,” kata Dedi.
Sejak Juli 2024, Partai Perindo memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Angela Tanoesoedibjo sebagai Ketua Umum. Ia menggantikan sang ayah, Hary Tanoesoedibjo, dengan mandat membawa Perindo lebih relevan dalam percaturan nasional. Angela sendiri dikenal sebagai eks Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan kini mulai membangun fondasi partai berbasis generasi muda dan ekonomi rakyat.
Partai yang didirikan pada 8 Oktober 2014 ini memosisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah. Tidak mengambil peran oposisi frontal, Perindo justru memilih menjadi pelengkap kebijakan publik dengan fokus utama pada penguatan sektor ekonomi rakyat, UMKM, petani, nelayan, dan buruh.
Dengan kehadiran figur-figur eks-eksekutif daerah seperti Nurdin Abdullah dan Abdul Hayat Gani, Perindo Sulsel kini tengah menata langkah menuju penguatan struktur partai yang tidak hanya elektoral, tetapi juga ideologis.
Arah politik partai pun mulai terasa jelas: bersiap menyambut momentum politik 2029, dengan konsolidasi kekuatan daerah sebagai poros utama.(*)

Tinggalkan Balasan