SUNGGUMINASA– Wakil Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin, menghadiri panen raya jagung di lahan seluas 25 hektare di Desa Majapai, Kecamatan Bontonompo, Selasa (12/8/2025). Ia menyebut produksi jagung di Gowa terus meningkat setiap tahun sehingga dapat memperkuat ketahanan pangan daerah.
Tahun ini, Pemkab Gowa menargetkan pencetakan 6.000 hektare sawah baru. “Target kita tahun ini mencetak sawah 6.000 hektare di Gowa,” ujar Darmawangsyah.
Wawan, sapaan akrabnya, menegaskan Pemkab Gowa akan terus memastikan bantuan kepada petani, baik bibit padi maupun jagung berkualitas. Ia mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, provinsi, dan pusat, serta meminta Dinas Pertanian Tanaman Pangan bersinergi dengan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) untuk meningkatkan kesejahteraan petani, khususnya melalui pengadaan bibit unggul.
Ia juga mengingatkan agar kelompok tani yang layak segera mendapat bantuan dan lebih aktif dalam kegiatan pertanian. “Hari ini kita juga melantik pengurus baru KTNA. Saya berpesan agar mereka mengawasi dan membina seluruh kelompok tani di Gowa,” katanya.
Darmawangsyah mengungkapkan, berdasarkan laporan, satu hektare lahan jagung dengan bibit berkualitas mampu menghasilkan 11 ton. Sebagian hasil panen akan dijadikan bibit untuk disebarluaskan, baik melalui pembelian langsung maupun bantuan pemerintah, guna meningkatkan pendapatan petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Gowa, Muhammad Fajaruddin, menambahkan panen kali ini dimulai di dua hektare lahan dari total 25 hektare. Secara keseluruhan, luas lahan jagung di Gowa mencapai 53 hektare. Produksi rata-rata pada 2024 adalah 6,74 ton per hektare, sementara pada 2025 meningkat signifikan: Subround I rata-rata 10,7 ton per hektare, dan Subround II mencapai 11 ton per hektare.
Ia berharap hasil panen dapat terserap pasar dan peran Bulog bisa dimaksimalkan. “Kami berharap Bulog mengambil jagung sesuai harga pemerintah, yaitu Rp5.500 per kilogram,” ujarnya.
Panen raya ini turut dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Wakil Ketua DPRD Gowa Hasrul Abdul Rajab, camat, lurah, petani, dan masyarakat setempat.(*)

Tinggalkan Balasan