SULSELONLINE.COM – Kepolisian berhasil mengungkap bahwa tindakan penjarahan mesin ATM yang terjadi saat kerusuhan di Gedung DPRD Makassar pada 29 Agustus 2025 lalu bukan merupakan aksi spontan, melainkan sebuah tindakan yang telah direncanakan secara matang.
Para pelaku diketahui telah mempersiapkan peralatan khusus seperti gerinda, genset kecil, dan linggis untuk melancarkan aksinya. Memanfaatkan situasi yang kacau, mereka menjarah satu mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang berisi uang senilai Rp 320 juta.
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana menyatakan, total pelaku dalam penjarahan mesin ATM ini berjumlah 20 orang. Saat ini, 10 orang di antaranya telah berhasil diamankan. Adapun identitas tersangka yang telah ditangkap adalah MRS (19), AR (23), MN (19), MAH (26), MJ (28), SWS (24), MAH (23), IKW (16), MCA (17), dan MAG (42).
“Dapat kami jelaskan begini, pada saat pelaku-pelaku ini mendatangi DPRD Makassar, mereka pertama bukan demonstrasi, tapi ini adalah pelaku kerusuhan, pelaku penjarahan,” ungkap Arya saat ekspose di Mapolrestabes Makassar, Selasa (16/9/2025).
Arya menambahkan, para pelaku memang telah mempersiapkan berbagai alat untuk melakukan penjarahan yang menyasar mesin ATM milik bank BUMN tersebut. “Mereka sudah membawa alat, alat yang digunakan itu adalah gerinda. Mereka datang bawa gerinda, bawa genset kecil untuk melakukan pembongkaran ATM, termasuk linggis,” kata Arya.
Setelah berhasil mengambil mesin ATM dari gerai, para pelaku kemudian mencuri kendaraan bajaj milik warga yang terparkir untuk mengangkut mesin ke tempat yang lebih sepi. “Bajaj ini digunakan untuk mengangkut ATM, menuju wilayah Jalan Malino (Gowa). Di sana (gedung DPRD Makassar) karena mungkin terlalu banyak massa, sehingga mereka bawa keluar,” ujar dia.
Setelah berhasil membongkar mesin ATM, uang tunai senilai Rp 320 juta dibagi rata oleh para pelaku. Hasilnya pun digunakan untuk berfoya-foya, bahkan ada yang dipakai untuk membayar cicilan motor. “Uangnya di mesin ATM ada Rp 320 juta, dilakukan oleh 20 orang dibagi-bagi, semua mereka mendapat sekitar Rp 15-20 juta. Hasilnya ada yang digunakan untuk beli laptop, sepatu, alat variasi motor, stik biliar, dan melunasi cicilan motor,” ungkap Arya.(*)

Tinggalkan Balasan