GAZA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa waktu setempat memerintahkan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza, menewaskan sedikitnya 30 orang. Serangan ini disebut sebagai salah satu yang paling brutal sejak gencatan senjata diberlakukan.

Kantor Netanyahu menyatakan, perintah serangan diberikan setelah pasukan Israel (IDF) diserang di Gaza selatan. Namun, tidak ada tentara Israel yang dilaporkan terluka. Israel juga disebut marah atas pengembalian jenazah seorang sandera yang ditawan sejak serangan 7 Oktober 2023.

Serangan ini terjadi di wilayah yang telah hancur akibat dua tahun perang dan blokade, yang menewaskan dan melumpuhkan lebih dari 248.000 warga Palestina, serta memaksa sebagian besar dari dua juta penduduk Gaza mengungsi. Ratusan ribu lainnya kini hidup dalam kelaparan.

Pengumuman Netanyahu datang di hari yang sama ketika ia menghadiri persidangan di Pengadilan Yerusalem atas tuduhan penipuan, pelanggaran kepercayaan, dan suap. Sidang dihentikan tiga jam lebih awal karena alasan “keamanan”. Sejumlah pihak, termasuk keluarga sandera, menuduh Netanyahu sengaja memperpanjang perang untuk menunda proses hukumnya.

Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan, Israel tetap melancarkan serangan udara meski gencatan senjata masih berlaku. “Setidaknya 30 orang tewas dalam serangan di beberapa wilayah Gaza,” ujar juru bicara lembaga tersebut yang berada di bawah pemerintahan Hamas.

Menanggapi serangan itu, Hamas menyatakan akan menunda penyerahan 13 jenazah sandera yang tewas. Kelompok tersebut juga mengklaim menemukan jenazah seorang sandera lain di wilayah Gaza.

Pemerintah Gaza menuding Israel telah melanggar gencatan senjata lebih dari 125 kali, menewaskan 94 warga dan melukai 344 lainnya. Pelanggaran terbaru mencakup serangan udara terhadap bus pada 18 Oktober yang menewaskan 11 anggota keluarga Abu Shaaban, termasuk tiga perempuan dan tujuh anak berusia 5 hingga 13 tahun.

Israel sebelumnya juga dituduh melakukan hampir 1.000 pelanggaran gencatan senjata sejak awal tahun, menewaskan sedikitnya 116 warga sipil dan melukai hampir 500 orang. Namun, pelanggaran-pelanggaran tersebut jarang mendapat sorotan di media arus utama internasional.

Associated Press, seperti dikutip *Raw Story*, menyebut perintah serangan Netanyahu sebagai “ujian baru” terhadap gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat.(*)