SULSELONLINE.COM – Pemerintah Kabupaten Maros akan membangun saluran induk di Kecamatan Moncongloe sebagai solusi jangka panjang penanganan banjir. Langkah ini diambil setelah 1.300 keluarga terdampak banjir dalam beberapa hari terakhir.
Keputusan tersebut dihasilkan dalam rapat lanjutan Penanganan Banjir Moncongloe, Selasa (9/12/2026), yang dihadiri Kepala Dinas PUTRPP Maros Muhammad Alfian Amri, perwakilan pengembang, serta sejumlah warga Perdos Moncongloe.
Muetazim menjelaskan bahwa saluran induk akan menjadi jalur utama pembuangan air dari titik-titik genangan. “Ditetapkan desain awal untuk membangun saluran pembuangan induk yang akan menjadi jalur utama aliran air di Moncongloe,” ujarnya usai rapat.
Saluran tersebut direncanakan melintasi beberapa kawasan perumahan, termasuk Findaria, Royal, dan Perdos. “Semua akan kita buatkan saluran drainase,” tambahnya. Menurut Muetazim, pemerintah perlu beralih dari penanganan darurat menuju perbaikan infrastruktur permanen. “Masa indomie terus yang dikirim tiap tahun. Harusnya yang dikirim itu saluran,” katanya menyinggung pola penanganan sebelumnya.
Saat ini Dinas PU masih menghitung kebutuhan teknis dan anggaran. Terbatasnya dana transfer daerah membuat perencanaan harus lebih cermat. Para pengembang juga menyatakan siap membangun secara swadaya apabila saluran melintasi lahan mereka.
Alfian Amri menuturkan seluruh pengembang telah sepakat menghubungkan saluran drainase masing-masing sebagai langkah cepat. “Biayanya dari swadaya mereka. Itu jangka pendek,” jelasnya. Untuk jangka panjang, pemerintah tengah menyusun master plan drainase yang akan dimasukkan dalam revisi RDTR. Ia menilai banjir dipicu saluran pembuangan yang tidak memadai serta perkembangan kawasan yang tidak terencana.
Di sisi lain, warga Moncongloe, Sahim, mengaku banjir telah terjadi lima tahun terakhir, dengan puncak terparah pada 2024. “Saya pulang dari rumah sakit bawa istri habis operasi, air sudah setinggi dada. Saya gendong istri sekitar 200 meter,” kenangnya. Ia berharap pembangunan saluran segera dimulai sebelum puncak musim hujan akhir Desember.
PPK OP IV BBWSPJ, Leo Arbi, menegaskan banjir Moncongloe bukan akibat luapan sungai, melainkan ketiadaan saluran drainase memadai. BBWSPJ merekomendasikan pembangunan saluran induk dan saat ini sedang menangani penyumbatan di Sungai Pammanjengan yang dipenuhi batang pohon.
Camat Moncongloe, Suhartini, menyampaikan bahwa 1.300 KK terdampak banjir, dengan 300 KK di antaranya mengungsi. Ia meminta warga tetap waspada karena air cepat naik meski hujan singkat. Dari lima desa di Moncongloe, hanya Desa Bontomarannu yang relatif aman, sementara Desa Moncongloe, Bonto Bunga, dan Lappara menjadi wilayah terparah karena padat perumahan. (*)

Tinggalkan Balasan