SULSELONLINE.COM – Sebuah penelitian terbaru dari ilmuwan China mengungkap adanya celah pada sistem pertahanan rudal Amerika Serikat (AS) dalam menghadapi senjata hipersonik. Studi yang dipimpin Liao Longwen dari Northwest Institute of Nuclear Technology dan dipublikasikan dalam jurnal *Tactical Missile Technology* menyebut sistem pertahanan udara AS saat ini masih kesulitan menghadapi rudal hipersonik yang memiliki kecepatan sangat tinggi dan kemampuan manuver kompleks.

Dikutip dari *South China Morning Post*, tim peneliti menganalisis sistem pertahanan berlapis milik AS dari fase tengah hingga fase terminal. Hasilnya menunjukkan sejumlah kelemahan pada beberapa sistem utama.

Sistem Aegis dengan pencegat SM-3, misalnya, dirancang untuk menghancurkan rudal di luar atmosfer pada ketinggian di atas 100 kilometer. Namun, panas ekstrem yang dihasilkan rudal hipersonik saat memasuki atmosfer dapat mengganggu sensor inframerah pencegat sehingga menurunkan efektivitasnya.

Sementara itu, sistem THAAD yang beroperasi pada ketinggian 40 hingga 150 kilometer dinilai kesulitan menghadapi rudal yang meluncur pada ketinggian lebih rendah dan berpotensi terkecoh oleh umpan.

Adapun sistem Patriot PAC-3 MSE yang digunakan untuk pertahanan jarak dekat memiliki waktu reaksi yang sangat terbatas. Untuk mencegat rudal yang menukik tajam, pencegat harus memiliki percepatan dua hingga tiga kali lebih tinggi dari target, sesuatu yang sulit dilakukan jika rudal lawan melaju di atas Mach 6.

“Secara teoritis sistem pertahanan rudal AS dapat mencegat sebagian senjata hipersonik pada tahap akhir, tetapi kecepatan tinggi, kemampuan manuver, dan karakteristik silumannya membuat pencegatan menjadi sangat sulit,” tulis Liao dan tim peneliti.

Temuan tersebut muncul bersamaan dengan laporan keberhasilan rudal Iran menembus sistem pertahanan Israel dan AS dalam konflik terbaru di Timur Tengah. Pada Kamis (5/3/2026), Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim rudal hipersonik dan drone serangnya dalam Operasi *True Promise 4* berhasil menembus sistem THAAD buatan AS dan menghantam sejumlah target strategis di Israel, termasuk kawasan sekitar Tel Aviv.

Rudal hipersonik dikenal memiliki kecepatan sangat tinggi, kemampuan manuver kuat, serta jalur penerbangan yang sulit diprediksi. Karakteristik ini membuatnya lebih sulit dideteksi dan dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional.

Penelitian tersebut juga menyoroti bahwa rudal hipersonik umumnya dirancang dengan sistem redundansi dan ketahanan tinggi. Artinya, meskipun berhasil terkena serangan pencegat, rudal masih berpotensi melanjutkan misinya jika kerusakan tidak mengenai bagian vital.

Sebagai solusi jangka panjang, pemerintahan Donald Trump sebelumnya sempat mengusulkan sistem pertahanan “Golden Dome” yang memanfaatkan ratusan satelit orbit rendah dengan senjata laser. Namun para ahli menilai konsep tersebut masih jauh dari tahap operasional untuk menghadapi ancaman hipersonik saat ini.(*)