SULSELONLINE.COM – Perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Hal ini menegaskan masih lebarnya jurang perbedaan di tengah gencatan senjata dua pekan dalam konflik yang sedang berlangsung.

Negosiasi yang digelar di Islamabad, Pakistan hingga Minggu (14/4/2026) tersebut menjadi pertemuan langsung pertama kedua negara dalam lebih dari satu dekade sejak Revolusi Islam Iran 1979.

Pernyataan Kedua Pihak

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyalahkan AS atas kegagalan ini. Ia menyebut Iran telah membawa sejumlah inisiatif “berorientasi ke depan”, namun Washington dinilai gagal membangun kepercayaan.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi Washington juga mengakui tidak tercapainya kesepakatan. Ia menilai kegagalan tersebut justru lebih merugikan Iran dibandingkan AS.

Perundingan yang berlangsung lebih dari 21 jam ini memang tidak menghasilkan terobosan, namun masih membuka peluang untuk dialog lanjutan.

Sikap Amerika Serikat

Pemerintah AS menilai kegagalan terjadi karena Iran menolak tuntutan utama, yakni komitmen tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Menurut Vance, tujuan utama Presiden Donald Trump adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan membuat senjata nuklir dalam waktu cepat. Washington bahkan mengklaim telah mengajukan “proposal terbaik dan final” serta menetapkan sejumlah garis merah.

Meski demikian, Trump sempat menyatakan bahwa tercapai atau tidaknya kesepakatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan, walaupun pengiriman delegasi tingkat tinggi menunjukkan keseriusan AS dalam jalur diplomasi.

Sikap Iran

Sebaliknya, Iran menilai AS mengajukan tuntutan yang tidak realistis dan berlebihan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa keberhasilan diplomasi bergantung pada itikad baik, tanpa tekanan berlebihan, serta penghormatan terhadap hak Iran.

Ia mengungkapkan bahwa berbagai isu telah dibahas, mulai dari program nuklir, Selat Hormuz, pencabutan sanksi, kompensasi perang, hingga penghentian konflik secara menyeluruh.

Iran juga menekankan bahwa kegagalan dalam satu pertemuan bukan akhir dari diplomasi. Ghalibaf menambahkan, keputusan kini berada di tangan AS untuk membangun kembali kepercayaan.

Peran Pakistan

Sebagai tuan rumah sekaligus mediator, Pakistan mendorong kedua pihak tetap menjaga gencatan senjata.

Menteri Luar Negeri Ishaq Dar menekankan pentingnya melanjutkan dialog secara konstruktif demi mencapai perdamaian yang berkelanjutan dan mencegah eskalasi konflik.

Poin-poin Utama yang Menjadi Kendala

1. Program Nuklir Iran

Isu nuklir menjadi pusat perdebatan utama.

  • AS menuntut jaminan tegas bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir.
  • Iran menegaskan programnya hanya untuk tujuan sipil, namun membuka ruang negosiasi jika sanksi dicabut.
  • Ketegangan meningkat sejak AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 dan kembali menjatuhkan sanksi.
  • Iran kemudian meningkatkan pengayaan uranium hingga 60 persen.

2. Status Selat Hormuz

Selat Hormuz menjadi titik krusial lainnya.

  • Iran mengusulkan penerapan biaya bagi kapal yang melintas.
  • AS menuntut jalur tetap terbuka bebas tanpa pungutan.
  • Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini.
  • Ketegangan di kawasan memicu krisis energi global, lonjakan harga, dan gangguan rantai pasok.

3. Perluasan Gencatan Senjata ke Lebanon

Iran mendorong agar gencatan senjata diperluas ke konflik kawasan, termasuk di Lebanon.

  • Hal ini berkaitan dengan keterlibatan sekutu Iran seperti Hizbullah.
  • Namun, Israel menolak memasukkan operasi militernya di Lebanon ke dalam kesepakatan.
  • Perbedaan ini menghambat tercapainya kesepakatan yang lebih luas.

Kesimpulan

Meski belum menghasilkan kesepakatan, perundingan AS–Iran masih membuka peluang dialog lanjutan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Namun, selama isu-isu mendasar seperti program nuklir dan status Selat Hormuz belum menemukan titik temu, prospek perdamaian dan stabilitas kawasan Timur Tengah tetap berada dalam ketidakpastian.(*)