SULSELONLINE.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini diarahkan lebih fokus pada anak kurang gizi, sesuai instruksi Prabowo Subianto. Kebijakan ini menggeser pendekatan dari sebelumnya universal menjadi lebih tepat sasaran, dengan anak dari keluarga mampu tidak lagi menjadi prioritas.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyatakan pihaknya siap menjalankan arahan tersebut dengan meningkatkan kualitas layanan dan efektivitas program pada 2026.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2025, sekitar 7,8 juta anak di Indonesia masih mengalami kekurangan gizi. Meski demikian, prevalensi stunting turun menjadi 19,8 persen pada 2024—pertama kalinya berada di bawah 20 persen.
Untuk memastikan penyaluran tepat sasaran, BGN membentuk Tim Optimalisasi Penerima Manfaat yang akan mulai bekerja pekan depan dengan survei awal di DKI Jakarta. Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, menegaskan pendekatan berbasis kebutuhan menjadi kunci agar program benar-benar berdampak.
BGN juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk sinkronisasi data penerima manfaat. Hingga 30 Maret 2026, program MBG telah menjangkau lebih dari 61,6 juta penerima di 38 provinsi, didukung 26.066 unit SPPG.
Pengamat kebijakan publik, Eko Prasojo, menilai langkah ini tepat untuk mencegah pemborosan anggaran dan memastikan dampak nyata dalam penurunan stunting. Ia menekankan pentingnya validasi data hingga tingkat desa/kelurahan serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan akurasi.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah juga dinilai krusial, termasuk memanfaatkan data yang telah dimiliki sejumlah daerah seperti Surabaya dan Kabupaten Sumedang, guna memastikan program benar-benar menyasar anak yang membutuhkan.(*)

Tinggalkan Balasan