SULSELONLINE.COM – Penyanderaan awak dan Kapal Tanker Honour 25 oleh perompak Somalia menimbulkan kekhawatiran luas di tengah masyarakat Indonesia, khususnya keluarga awak kapal.

Harapan besar pun disematkan agar seluruh korban dapat segera dibebaskan dalam keadaan selamat.

Sejak insiden tersebut dilaporkan, berbagai pihak, terutama pemerintah, langsung bergerak cepat melakukan koordinasi untuk upaya penyelamatan. Kementerian Luar Negeri RI diketahui telah menjalin komunikasi dengan Pemerintah Somalia guna menempuh langkah-langkah yang diperlukan.

Respons cepat juga datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Diketahui, para awak Kapal Tanker Honour 25 telah disandera sejak 21 April 2026 di perairan internasional.

“Kami telah menghubungkan keluarga korban dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Luar Negeri. Kami terus memantau perkembangannya,” ujar Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, di Makassar, Selasa.

Dari total awak kapal asal Indonesia, dua di antaranya merupakan warga Sulawesi Selatan, yakni Ashari Samadikun, kapten kapal asal Kabupaten Gowa, dan Faizal yang menjabat sebagai mualim III asal Kabupaten Bulukumba.

Selain berkoordinasi dengan pemerintah pusat, Gubernur Sulsel juga menginstruksikan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel, Jayadi Nas, untuk mengunjungi keluarga korban di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk pendampingan sekaligus memperkuat koordinasi.

Jayadi menjelaskan, kunjungan tersebut bertujuan memastikan dukungan bagi keluarga korban serta memperlancar komunikasi dengan pemerintah pusat dalam proses penyelamatan.

“Kami telah mengunjungi keluarga korban dan menghubungkan mereka dengan pihak kementerian, termasuk Wakil Menteri P2MI, untuk mendapatkan informasi terkini,” ujarnya.

Berdasarkan komunikasi terakhir, kondisi para sandera dilaporkan masih dalam keadaan sehat. Namun demikian, situasi di lokasi penyanderaan masih belum dapat dipastikan aman.

Pemerintah pusat terus mengintensifkan upaya pembebasan melalui jalur diplomatik dengan melibatkan berbagai otoritas terkait di kawasan tersebut.

“Kami tegaskan bahwa negara hadir. Pemerintah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar para sandera dapat segera dibebaskan dengan selamat,” demikian pernyataan resmi perwakilan pemerintah.

Kedatangan tim dari Pemprov Sulsel disambut hangat oleh keluarga korban. Mereka mengapresiasi perhatian dan pendampingan yang diberikan selama masa sulit ini.

Santi Sanaya, istri kapten kapal, mengungkapkan bahwa ia sempat berkomunikasi dengan suaminya sebelum kontak terputus akibat kondisi yang semakin memburuk. Dalam komunikasi tersebut, sang suami menyampaikan adanya upaya negosiasi antara awak kapal dan kelompok perompak, meski terkendala bahasa.

“Suami saya sempat meminta agar saya tidak menghubunginya lagi, karena khawatir ponselnya akan digunakan oleh para perompak,” ujar Santi.

Ia juga menyebutkan bahwa kondisi fisik para awak kapal masih relatif baik. Mereka masih mendapatkan pasokan makanan dan tetap dapat menjalankan ibadah, meskipun tekanan psikologis terus dirasakan.

“Situasinya sulit diprediksi, kadang sangat mencekam. Suami saya juga sempat ditodong senjata,” ungkapnya.

Santi menambahkan, total terdapat 17 awak kapal yang disandera. Empat di antaranya merupakan warga negara Indonesia, dan dua orang berasal dari Sulawesi Selatan.(*)