BULUKUMBA — Pemerintah Kabupaten Bulukumba mulai mewaspadai potensi dampak musim kemarau panjang terhadap sektor pertanian tahun ini.
Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, pemerintah mengimbau petani di 10 kecamatan agar segera menyesuaikan pola tanam guna menghindari risiko gagal panen akibat kekeringan.
Kepala Dinas Pertanian Bulukumba, Andi Trismiati, mengatakan berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun 2026 diprediksi datang lebih cepat dibanding tahun sebelumnya.
Untuk wilayah Bulukumba, musim kemarau diperkirakan mulai berlangsung pada Agustus 2026.
“Karena itu kami meminta petani segera mempercepat masa tanam agar bisa panen sebelum musim kemarau tiba,” kata Andi Trismiati, Senin (11/5/2026).
Selain mempercepat masa tanam, petani juga dianjurkan menggunakan varietas padi berumur pendek atau varietas genjah. Jenis padi tersebut memiliki masa panen sekitar dua bulan sehingga dinilai lebih aman menghadapi potensi kekeringan.
Menurutnya, langkah antisipasi tetap perlu dilakukan meskipun sebagian besar lahan pertanian di Bulukumba telah memiliki jaringan irigasi. Pasalnya, kemarau ekstrem tetap berpotensi mengurangi debit air irigasi.
Untuk meminimalkan dampak kekeringan, Dinas Pertanian turut mengerahkan penyuluh pertanian guna memberikan edukasi kepada petani terkait pola tanam dan mitigasi musim kemarau.
Data Dinas Pertanian mencatat, luas sawah tadah hujan di Bulukumba yang berpotensi terdampak kekeringan mencapai 2.074,64 hektare. Sawah tadah hujan merupakan lahan pertanian yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan tanpa dukungan irigasi tetap.
Sementara itu, luas sawah irigasi di Bulukumba mencapai 20.916 hektare, dengan total keseluruhan lahan persawahan sekitar 22.991,33 hektare.
Pemerintah daerah juga meminta petani tidak terlalu lama menghentikan aktivitas tanam setelah masa panen saat ini selesai agar siklus tanam tidak melewati awal musim kemarau.
Di sisi lain, seorang petani di Kecamatan Gantarang, Andi Syamsir, berharap pemerintah segera membangun bendungan dan sumber cadangan air untuk mendukung kebutuhan pertanian masyarakat.
“Sudah seharusnya pemerintah membangun bendungan yang memadai agar petani memiliki cadangan air saat kemarau,” ujarnya.
Menurutnya, ketersediaan sumber air sangat penting untuk menjaga produksi pangan daerah. Sebab, jika banyak petani mengalami gagal panen, pasokan beras di Bulukumba dapat berkurang dan memaksa pedagang mendatangkan beras dari luar daerah dengan harga lebih mahal. (*)

Tinggalkan Balasan