SULSELONLINE.COM – Kinerja industri perbankan di Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan tren positif hingga Triwulan I 2026. Pertumbuhan terlihat dari peningkatan total aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), serta penyaluran kredit yang tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi.

Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar), Moch Muchlasin, mengungkapkan total aset perbankan di Sulsel tumbuh 4,12 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp213,44 triliun hingga Maret 2026.

Di sisi penghimpunan dana, DPK tercatat meningkat 7,33 persen (yoy) menjadi Rp147,41 triliun. Tabungan masih menjadi instrumen simpanan terbesar dengan pangsa 61,45 persen dari total DPK, disusul deposito sebesar 22,70 persen dan giro 15,85 persen.

“DPK di Sulawesi Selatan masih didominasi oleh tabungan dengan pangsa 61,45 persen, diikuti deposito sebesar 22,70 persen dan giro sebesar 15,85 persen,” ujar Muchlasin, Senin (1/6/2026).

Sementara itu, dari sisi penyaluran dana, kredit perbankan tumbuh 5,19 persen (yoy) menjadi Rp174,39 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 3,76 persen pada Maret 2025.

Menurut Muchlasin, peningkatan tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi dan kebutuhan pembiayaan masyarakat yang terus meningkat. Berdasarkan penggunaannya, kredit produktif mendominasi dengan porsi 52,69 persen dari total kredit dan tumbuh 2,79 persen (yoy). Adapun kredit konsumtif mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi, yakni 8 persen (yoy).

Dari sisi sektor ekonomi, kredit produktif yang disalurkan ke sektor perdagangan besar dan eceran masih menjadi yang terbesar dengan pangsa 22 persen dari total kredit.

“Kinerja intermediasi perbankan di Sulawesi Selatan tetap terjaga. Hal ini tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 118,30 persen, sementara rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) berada pada level 3,73 persen,” jelasnya.

Selain perbankan konvensional, industri perbankan syariah di Sulsel juga mencatatkan pertumbuhan yang signifikan hingga Maret 2026.

Data OJK Sulselbar menunjukkan aset perbankan syariah tumbuh 30,18 persen (yoy) menjadi Rp22,82 triliun. Penghimpunan DPK meningkat 23,31 persen menjadi Rp15,10 triliun, sementara pembiayaan tumbuh 24,16 persen menjadi Rp18,54 triliun.

Tingkat intermediasi perbankan syariah tercatat sebesar 122,77 persen dengan rasio Non Performing Financing (NPF) yang terjaga di level 1,77 persen.

Menurut Muchlasin, meski pangsa pasar perbankan syariah masih lebih kecil dibandingkan perbankan konvensional, tren pertumbuhannya terus menunjukkan peningkatan. Pangsa pasar aset perbankan syariah naik dari sekitar 7 persen pada 2023 menjadi 10,69 persen pada Maret 2026.

“Hal ini menunjukkan akselerasi perkembangan dan peningkatan kontribusi perbankan syariah dalam industri perbankan di Sulawesi Selatan,” kata Muchlasin.

Pertumbuhan aset, DPK, dan pembiayaan perbankan syariah yang jauh melampaui perbankan konvensional dinilai menjadi indikator kuat bahwa layanan keuangan berbasis syariah semakin diterima dan berkembang di Sulawesi Selatan.(*)