MAROS — Upaya mencegah stunting di Kabupaten Maros terus diperkuat melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Program ini melibatkan pemerintah, dunia usaha, tenaga kesehatan, tokoh agama, masyarakat hingga mitra pembangunan.
Pembinaan GENTING tingkat Kabupaten Maros digelar di Gedung Baruga B, Kantor Bupati Maros, Rabu (26/8/2026). Kegiatan dihadiri Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel Dr Fatmawati, Wakil Bupati Maros A. Muetazim Mansyur, Kepala DP3ADALDUKKB Maros Muhammad Aris, para Kepala KUA, tenaga kesehatan, Penyuluh KB, Tim Pendamping Keluarga serta unsur dunia usaha.
Dalam kegiatan tersebut, Pojok GENTING BKKBN Sulsel menyerahkan 12 paket nutrisi kepada keluarga berisiko stunting di Maros.
Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel Fatmawati mengatakan, pencegahan harus menjadi fokus utama dalam penanganan stunting. Intervensi tidak boleh baru dilakukan setelah stunting terjadi karena membutuhkan biaya dan upaya lebih besar.
“Yang paling penting adalah bagaimana mencegahnya sebelum terjadi. Jangan sampai kita baru bergerak setelah stunting terjadi,” ujarnya.
Menurut Fatmawati, keluarga menjadi titik penting pencegahan stunting. Sejumlah faktor risiko perlu diperhatikan, termasuk konsep 4T, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak dan terlalu dekat dalam kehamilan atau kelahiran.
Faktor lingkungan seperti sanitasi dan akses air minum layak juga turut memengaruhi risiko stunting.
Fatmawati mengapresiasi capaian Maros dalam menekan prevalensi stunting. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting Maros mencapai 34,7 persen pada 2023, kemudian turun menjadi sekitar 22 persen pada 2024.
Penurunan sekitar 12 poin persentase itu menjadi salah satu capaian tertinggi di Sulawesi Selatan.
“Maros menjadi salah satu kabupaten dengan penurunan prevalensi stunting tertinggi di Sulawesi Selatan. Ini tentu bukan pekerjaan satu pihak, tetapi hasil dari kerja bersama,” katanya.
Wakil Bupati Maros A. Muetazim Mansyur mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah, kata dia, tidak mungkin menangani stunting seorang diri.
“Kalau seluruh beban penanganan stunting hanya dibebankan kepada pemerintah daerah, tentu akan terasa berat. Karena itu, kita membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak,” ujarnya.
Muetazim menyebut dunia usaha, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, komunitas hingga keluarga dapat mengambil peran. Dukungan dapat berupa makanan bergizi, edukasi, pendampingan keluarga, pemenuhan kebutuhan dasar maupun menciptakan lingkungan sehat.
Sementara itu, Kepala DP3ADALDUKKB Maros Muhammad Aris menegaskan GENTING harus menjadi gerakan berkelanjutan yang menyentuh langsung keluarga sasaran.
“Keberhasilan pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Diperlukan keterlibatan dan kolaborasi seluruh unsur masyarakat,” katanya.
Ia mengapresiasi keterlibatan puskesmas, Penyuluh KB, Tim Pendamping Keluarga, jajaran KUA, dunia usaha dan berbagai mitra dalam mendampingi keluarga berisiko stunting.
Melalui pendekatan pentahelix, GENTING diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan bersama untuk memastikan anak-anak Maros tumbuh sehat dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.(*)

Tinggalkan Balasan