SULSELONLINE.COM — Kabupaten Maros mendapat apresiasi dari Pengurus Pusat Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) atas komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat ekosistem literasi dan membudayakan minat baca masyarakat.
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat GPMB, Nuradi Indrawijaya, memberikan apresiasi kepada Bupati Maros Chaidir Syam atas dukungan dan perhatian yang dinilai masif terhadap Pengurus Daerah GPMB Kabupaten Maros.
Menurut Nuradi, dukungan tersebut mendorong GPMB Maros untuk terus membangun sinergi dan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat serta pemangku kebijakan dalam menggerakkan budaya literasi.
Apresiasi itu disampaikan Nuradi dari Yogyakarta dalam diskusi jarak jauh menyambut 25 Tahun GPMB, Rabu (26/8/2026). Diskusi tersebut menghadirkan Ketua GPMB Maros Bachtiar Adnan Kusuma dan Koordinator Wilayah GPMB Area Sulawesi Prof. Dr. Hanna, M.Pd., dari Kendari.
Kegiatan yang dipandu Ketua PP GPMB KH Rachman Ridhatullah dari Bandung itu diikuti peserta dari berbagai daerah, antara lain Kendari, Maros, Jeneponto, Majene, Yogyakarta, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bogor.
Dalam diskusi tersebut, Bachtiar Adnan Kusuma memaparkan agenda aksi GPMB Maros dalam membangun gerakan pembudayaan minat baca berbasis sinergi dan kolaborasi.
Gerakan itu melibatkan berbagai unsur, mulai dari aktivis literasi, pustakawan, akademisi, militer, ulama, pendidik, penulis, KNPI, majelis taklim, guru PAUD hingga jurnalis. Seluruh unsur tersebut diharapkan menjadi bagian dari ekosistem literasi di Kabupaten Maros.
Nuradi menilai langkah yang dilakukan GPMB Maros merupakan sebuah terobosan karena melibatkan berbagai elemen masyarakat.
“Sangat luar biasa dan sebuah terobosan bersumber dari semua pihak yang ada di Maros. Kabupaten Maros menjadi contoh di seluruh Indonesia, terutama dalam pembudayaan budaya baca,” kata Nuradi.
Apresiasi serupa disampaikan Arni Daeng Kanang, salah seorang kepala bidang di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kendari. Ia menilai perhatian dan ketulusan Bupati Maros Chaidir Syam dalam memperkuat ekosistem literasi merupakan contoh kepemimpinan daerah yang peduli terhadap budaya baca.
“Saya menjadi penyaksi beberapa kali berkunjung ke Maros dan melihat langsung dukungan Bupati Chaidir Syam terhadap gerakan literasi,” ujar Arni.
Sementara itu, Ketua GPMB Maros Bachtiar Adnan Kusuma mengatakan, literasi merupakan jalan perjuangan yang bersiklus dan berbentuk lingkaran sehingga sulit menemukan titik awal maupun akhirnya.
Karena itu, menurut Bachtiar, literasi akan lebih bermakna apabila tidak berhenti pada diksi atau wacana, tetapi bermigrasi menjadi aksi nyata.
Tokoh literasi nasional tersebut menyebut terdapat tiga kunci dalam menjalankan gerakan literasi. Pertama, tidak perlu rendah diri. Kedua, terus melakukan gerakan yang inovatif dan kreatif. Ketiga, menjadikan literasi sebagai panggilan jiwa.
Pandangan tersebut diamini Prof. Dr. Hanna, M.Pd. Menurutnya, memilih jalan pengabdian melalui gerakan literasi merupakan panggilan jiwa dan panggilan bagi para relawan tanpa menuntut imbalan apa pun.
Diskusi melalui Zoom dalam rangka menyambut 25 Tahun GPMB tersebut menjadi sesi akhir yang menampilkan tokoh-tokoh gerakan membaca dari kalangan internal GPMB di seluruh Indonesia.
Pada sesi berikutnya, GPMB akan menghadirkan sejumlah tokoh dari luar jaringan internal organisasi untuk memperkaya perspektif mengenai gerakan pembudayaan minat baca di Indonesia.(*)

Tinggalkan Balasan