MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar menyiapkan sejumlah strategi menghadapi dampak perubahan iklim, mulai dari penghijauan, pengelolaan sampah, urban farming hingga pembenahan ruang publik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan penanganan lingkungan harus dilakukan secara bertahap dan menyeluruh. Hal itu disampaikan dalam program Bincang Kota Tribun Timur bertema “Makassar Hadapi Perubahan Iklim, Sudah Siap?”, Kamis (17/9/2026).

Menurut Helmy, setelah penanganan sampah, Pemkot Makassar akan memperkuat program penghijauan. Saat ini, tutupan hijau Makassar sekitar 12 persen dan ditargetkan meningkat menjadi 30 persen sesuai ketentuan penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan perkotaan.

“Setelah masalah sampah mulai kita kurangi, tentu kita berharap masuk ke persoalan lingkungan lainnya, yaitu penghijauan kota,” ujar Helmy.

Pemkot juga berupaya mengembangkan kembali sejumlah jenis pohon yang semakin jarang ditemukan di Makassar, termasuk bungur dan melati. Di sisi lain, pohon-pohon tua juga mendapat perhatian karena berpotensi tumbang saat musim hujan dan angin kencang. Tahun lalu, DLH menangani sekitar 90 pohon tumbang.

Selain penghijauan, Pemkot Makassar mengembangkan urban farming yang mulai diintegrasikan dengan pengelolaan sampah organik. Helmy menyebut timbulan sampah di Makassar mencapai sekitar 1.000 ton per hari, dengan 54 persen di antaranya merupakan sampah organik.

Persiapan menghadapi musim hujan juga dilakukan melalui pembenahan infrastruktur dan ruang publik, termasuk pedestrian di Jalan Kajaolalido dan Taman Hasanuddin. DLH turut mendata jenis pohon yang dapat dikembangkan kembali.

Strategi menghadapi perubahan iklim juga mencakup kawasan pesisir dan kepulauan. Helmy menegaskan kesiapan masyarakat dan lingkungan perlu diperkuat agar Makassar mampu menghadapi berbagai dampak perubahan iklim.

“Kita harus mempersiapkan masyarakat dan lingkungan agar lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim,” tuturnya.(*)