MAROS — Bupati Maros Chaidir Syam resmi meraih gelar doktor usai mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka promosi doktor Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Rabu (12/2/2026). Obyek penelitian utama pada disertasi tersebut adalah dirinya sendiri yang kerap ia sebut Pak Chaidir.
Dalam disertasinya, Chaidir mengangkat dinamika politik Pilkada Maros 2024, khususnya fenomena calon tunggal melawan kolom kosong. Sidang promosi doktor tersebut dipimpin promotor Prof Armin Arsyad.
Chaidir memaparkan perjalanan politiknya yang sempat mengalami perubahan signifikan. Awalnya, ia maju berpasangan dengan Suhartina Bohari yang saat itu menjabat Wakil Bupati Maros sekaligus Ketua Golkar Maros. Pasangan tersebut diusung PAN dan Golkar dengan total 18 kursi di DPRD Maros, terdiri dari 12 kursi PAN dan 6 kursi Golkar dari total 35 kursi.
Secara elektoral, dukungan tersebut telah melampaui 51 persen kekuatan DPRD. Koalisi kemudian diperluas hingga mencakup sembilan partai politik.
“Modal politik dari calon menjadi catatan positif dalam disertasi kami sehingga bisa menjadi pasangan calon tunggal dalam kontestasi Pilkada,” kata Chaidir dalam pemaparannya.
Namun, Suhartina dinyatakan tidak memenuhi syarat dalam tes kesehatan sehingga gugur sebagai calon wakil bupati. Chaidir harus mencari pendamping baru dalam waktu tiga hari sekaligus menjaga soliditas sembilan partai pengusung.
Empat nama sempat masuk bursa calon wakil bupati, yakni Sekda Maros Andi Davied Syamsuddin, Kepala Dinas Penanaman Modal Terpadu Satu Pintu Nuryadi, Kepala Dinas Kesehatan Muh Yunus, dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Muetazim Mansyur. Pada akhirnya, Muetazim Mansyur dipilih sebagai pendamping.
Dalam penelitiannya, Chaidir mengkaji fenomena dukungan terhadap kolom kosong secara sosiologis. Ia menilai kolom kosong dalam Pilkada Maros 2024 tidak sepenuhnya kosong karena terdapat gerakan dukungan yang cukup masif.
“Kami meneliti fenomena kolom kosong yang sebenarnya berisi. Bahkan secara visual, spanduk kolom kosong terlihat lebih besar dibandingkan calon tunggal,” ujarnya.
Pasangan Chaidir-Muetazim akhirnya memenangkan Pilkada Maros 2024 dengan perolehan 64,01 persen suara, sementara kolom kosong meraih 35,99 persen. Tingkat partisipasi pemilih tercatat 69,62 persen.
Menurut Chaidir, fenomena calon tunggal berdampak pada kualitas demokrasi lokal, baik secara prosedural maupun substansial. Ia menyebut dinamika tersebut menjadi refleksi akademik untuk perbaikan sistem demokrasi ke depan.
Chaidir juga menegaskan tetap menjaga objektivitas dalam penelitian meskipun mengangkat pengalaman politiknya sendiri. Ia mengaku melibatkan narasumber lain untuk meminimalkan potensi bias.
“Makanya itu ditulis, jangan terlalu curahan hati. Tetapi mungkin ada juga yang akhirnya saya mengambil orang lain untuk menanyakan, karena mungkin kalau lewat saya ada bias,” ujarnya.
Ke depan, ia membuka kemungkinan membukukan pengalaman akademik dan politiknya sebagai referensi bagi generasi muda yang ingin terjun ke dunia politik.
Dalam sidang tersebut, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya turut hadir sebagai penguji. Ia mengaku harus meminta izin khusus kepada Menteri Dalam Negeri karena bertepatan dengan agenda rapat koordinasi bencana di Sumatera.
“Saya tentu akan memberikan kritik, masa sudah jauh-jauh hanya memberikan saran saja kepada Pak Bupati,” kata Bima Arya.
Ia mengapresiasi keberanian Chaidir mengangkat isu calon tunggal yang kerap menuai kritik dari kalangan akademisi. Namun, Bima juga memberikan catatan kritis terkait implikasi fenomena tersebut terhadap partisipasi dan kualitas demokrasi.
“Di halaman 51 disebutkan implikasinya dapat menurunkan partisipasi warga. Demokrasi menjadi cenderung prosedural, sementara secara substansi ada penurunan,” ujarnya.
Bima mempertanyakan langkah konkret yang akan ditempuh Chaidir sebagai kepala daerah untuk memperkuat demokrasi secara substansial di Maros.
Berikut profil singkat Chaidir Syam:
Nama: Andi Syafril Chaidir Syam
Lahir: 2 Februari 1977
Orangtua: Andi Syamsuddin dan Andi Nadjemiah
Pendidikan:
S1 Ilmu Pemerintahan, FISIP Universitas Hasanuddin (1995–2001)
S2 Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (2015–2018)
S3 Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (2021–2024)
S3 Ilmu Politik, FISIP Universitas Hasanuddin (2023–2026)
Karier Politik:
Anggota DPRD Maros (2009–2019)
Ketua DPRD Maros (2014–2019)
Bupati Maros (2021–sekarang)

Tinggalkan Balasan