SULSELONLINE.COM — Dentuman itu terdengar jauh, melintasi gurun dan laut, menembus layar-layar radar di Asia Barat. Namun pusat komando perang Amerika Serikat malam itu bukan hanya di Pentagon atau Situation Room. Ia berada di tepi pantai Florida, di balik dinding marmer dan lampu kristal Mar-a-Lago.
Di resor pribadinya itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memimpin operasi militer terbesar dalam beberapa tahun terakhir—serangan yang oleh Washington dinamai “Operasi Epic Fury”. Tiga prajurit Amerika dilaporkan gugur. Lebih dari 1.000 target di Iran diklaim telah dihantam dalam 36 jam pertama.
Sementara rudal melesat di langit Timur Tengah, Trump memantau peta dan laporan intelijen dari Florida. Di antara deru ombak Palm Beach dan kilau lampu pesta yang biasa menghiasi resor tersebut, perang diputuskan. Ia menyampaikan pembaruan lewat Truth Social, menyebut operasi itu sebagai salah satu serangan paling kompleks dalam sejarah militer Amerika, serta memperingatkan Iran agar tidak membalas.
Gedung Putih mengonfirmasi operasi terus berjalan. Wakil Presiden dilaporkan berada di Situation Room, Washington D.C., namun sorotan tertuju pada Trump yang memilih memimpin dari kediaman pribadinya.
Tak lama setelah gelombang serangan udara Sabtu malam, Trump muncul di hadapan pers. Dengan nada tegas, ia mengumumkan klaim paling mengguncang: Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara.
Selain Khamenei, empat hingga tujuh komandan senior militer Iran dilaporkan turut tewas, termasuk Mohammad Pakpour, Ali Shamkhani, Abdolrahim Mousavi, dan Aziz Nasirzadeh.
Teheran membalas. Rudal dan drone diarahkan ke Israel dan sejumlah negara Teluk—Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, hingga Qatar. Ledakan terdengar di bandara, pelabuhan, kawasan permukiman, dan distrik komersial di Dubai serta Manama. Bahrain melaporkan fasilitas maritim dekat Pelabuhan Salman terbakar. Inggris menyatakan jet tempurnya menembak jatuh drone Iran menuju Qatar. Di Irak, kelompok bersenjata mengklaim menyerang pangkalan AS dengan puluhan drone.
Di Teheran, siaran televisi pemerintah sempat diretas. Potongan pidato Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu muncul tiba-tiba di layar. Situasi di lapangan tetap sulit diverifikasi secara independen, sementara arus informasi bercampur antara propaganda dan kabar darurat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pemboman tidak melumpuhkan kemampuan tempur negaranya. Ia menyebut strategi pertahanan terdesentralisasi membuat Iran tetap mampu menentukan arah konflik.
Reaksi dunia mengalir cepat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan dukungan terhadap “perubahan nyata” di Iran. Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar rapat darurat dewan pertahanan. Uni Eropa mengutuk serangan Iran ke negara-negara kawasan dan menyerukan transisi kredibel di Teheran.
Trump sendiri mengisyaratkan perang bisa berlangsung hingga empat minggu. “Kemungkinan akan ada lebih banyak korban,” katanya dalam pernyataan lanjutan, sembari menegaskan Amerika akan membalas setiap serangan dengan “pukulan paling telak”.
Perang yang semula disebut operasi presisi kini menjelma pusaran regional. Bandara, kilang minyak, pusat komando militer, hingga kawasan permukiman masuk daftar target. Diplomasi masih disebut sebagai opsi, tetapi di langit Asia Barat, suara rudal lebih dulu berbicara.
Tiga prajurit Amerika telah gugur. Sejumlah komandan Iran tewas. Dan dari sebuah resor mewah di Florida, seorang presiden memimpin perang—lalu berdiri di depan kamera, mengumumkan satu nama yang diyakini mengubah peta kekuasaan di Teheran. Kawasan yang lama rapuh itu kini kembali berada di tepi jurang konflik yang lebih luas.(*)

Tinggalkan Balasan