MAROS – Limbah penggilingan bakso yang selama ini dianggap tidak bernilai dimanfaatkan menjadi bahan baku pakan ikan bandeng melalui program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan Universitas Indonesia Timur (UIT) di Kabupaten Maros.
Program tersebut dijalankan Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UIT bersama Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Citra Usaha Mandiri di Lingkungan Sengkalantang, Kelurahan Baji Pa’Mai, Kecamatan Maros Baru. Kegiatan ini didanai melalui Hibah PKM Kemendiktisaintek Tahun Anggaran 2026.
Ketua Tim PKM UIT, Dr. Harlina, SP., M.Si, mengatakan program tersebut berfokus pada penerapan teknologi pakan mandiri berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan memanfaatkan limbah penggilingan bakso sebagai bahan baku utama.
Menurutnya, inovasi tersebut diharapkan dapat membantu pembudidaya ikan menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kemandirian dalam penyediaan pakan.
“Harapannya, mitra mampu membuat pakan ikan secara mandiri sehingga tidak lagi mengandalkan pakan komersial seratus persen,” kata Harlina.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi pada 23 Mei 2026 untuk memberikan pemahaman mengenai tujuan dan manfaat program kepada peserta. Selanjutnya, pada 6 Juni 2026, tim PKM UIT menyerahkan sejumlah sarana pendukung budidaya maggot dan produksi pakan ikan.
Peralatan yang diserahkan meliputi rumah maggot sebagai fasilitas pemeliharaan larva BSF, oven pengering untuk menurunkan kadar air maggot, satu set mesin penepung, serta mesin pencetak pelet untuk menghasilkan pakan ikan berukuran seragam.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIT, Nismawati, S.Si., M.Kes, mengatakan program pengabdian harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami mendorong pengabdian yang tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga ada transfer pengetahuan dan dukungan teknologi agar mitra benar-benar berdaya dan mandiri,” ujarnya.
Puncak kegiatan berlangsung pada 7 Juni 2026 melalui pelatihan, penyuluhan, demonstrasi, dan pendampingan yang diikuti 11 anggota Pokdakan Citra Usaha Mandiri serta 10 warga sekitar.
Peserta memperoleh materi mengenai teknik budidaya maggot BSF, penggunaan peralatan yang diberikan, hingga praktik langsung pembuatan pakan ikan bandeng berbasis maggot.
Narasumber kegiatan, Dr. Kamaruddin dari BRIN, menjelaskan bahwa maggot BSF memiliki potensi besar sebagai pakan alternatif karena kaya nutrisi dan dapat diproduksi dari limbah organik yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Kunci utamanya ada pada konsistensi proses, mulai dari pengelolaan bahan baku, budidaya maggot, sampai formulasi pakan. Jika berjalan baik, manfaatnya akan terasa untuk efisiensi budidaya,” katanya.
Ketua Pokdakan Citra Usaha Mandiri, H. Yunus, mengaku terbantu dengan dukungan teknologi dan pendampingan yang diberikan tim PKM UIT.
“Kami sangat terbantu, apalagi dengan adanya rumah maggot, oven pengering, dan mesin pakan. Harapannya setelah pelatihan ini kami bisa benar-benar memproduksi pakan sendiri sehingga biaya pakan lebih ringan,” ujarnya.
Tim PKM UIT yang terlibat dalam program tersebut terdiri atas Dr. Harlina, SP., M.Si sebagai ketua, Dr. Rosmiati, SP., M.Si dan Supiati, SE., MM sebagai anggota, serta Andayanil dan Santika Nayla Putri dari unsur mahasiswa.
Untuk memastikan keberlanjutan program, tim PKM UIT menjadwalkan kegiatan monitoring dan evaluasi pada 18 Juni 2026. Kegiatan itu bertujuan memastikan teknologi budidaya maggot BSF dan produksi pakan mandiri telah diterapkan serta memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok pembudidaya ikan di Kabupaten Maros.

Tinggalkan Balasan