MAROS – Perpustakaan dinilai menjadi salah satu tempat ideal bagi anak untuk belajar sekaligus bermain. Karena itu, orang tua dan guru didorong tidak hanya mengajak anak menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan untuk bermain dan menikmati kuliner.

Anak juga perlu diarahkan untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar, bermain, mencari informasi, hingga mengembangkan kreativitas. Terlebih di tengah kebiasaan anak menghabiskan waktu dengan telepon seluler (HP).

Pesan tersebut mengemuka dalam Launching Gerakan Membaca dan Menulis di Perpustakaan Kabupaten Maros (Gema Pustaka) dalam rangka memperingati Hari Kunjungan Perpustakaan, Senin (14/9/2026).

Kegiatan yang diinisiasi Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Maros bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Maros tersebut dihadiri Bupati Maros Chaidir Syam, Bunda Literasi Kabupaten Maros Apt. Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, S.Si., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Maros Syamsuddin, Ketua GPMB Maros Bachtiar Adnan Kusuma, Sekretaris GPMB yang juga Ketua Pokja PAUD Maros Fitriani, Lory Indrajaya, Dr Khaedir Makkasau, S.Ag., M.Pd.I., para kepala bidang di jajaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Maros, pegiat literasi, kepala sekolah, pustakawan, relawan Bunda PAUD Maros, serta sejumlah anak TK binaan Pokja PAUD Maros.

Dalam kegiatan tersebut, mengemuka gagasan mengenai eratnya hubungan antara budaya membaca dan menulis dengan keberadaan perpustakaan.

Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan, perpustakaan tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat membaca buku. Lebih dari itu, perpustakaan harus mampu menjadi pusat kegiatan masyarakat.

“Perpustakaan tak sekadar ruang membaca dan menulis, melainkan menjadi pusat kegiatan masyarakat. Di perpustakaan tempatnya ibu-ibu menyelenggarakan kegiatan arisan, mengelola kecakapan hidup, namanya Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial,” kata Chaidir Syam.

Menurutnya, membaca buku di perpustakaan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan anak yang hanya menghabiskan waktu bermain HP.

Di perpustakaan, anak dapat menemukan beragam buku yang menarik dan bermanfaat sekaligus memperoleh akses terhadap pengetahuan yang lebih luas.

Dalam perspektif pembangunan manusia, kata Chaidir, kemudahan masyarakat mengakses pengetahuan, termasuk melalui buku di perpustakaan, juga dapat menjadi salah satu upaya mencegah kemiskinan.

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari membaca dapat membantu seseorang lebih mudah beradaptasi, mengambil peluang, serta meningkatkan kualitas kehidupannya.

Karena itu, pada momentum Hari Kunjungan Perpustakaan, Chaidir Syam meluncurkan Gema Pustaka sebagai wujud nyata penguatan peran Perpustakaan Kabupaten Maros melalui tiga pilar, yakni satuan keluarga, satuan pendidikan, dan satuan masyarakat.

Chaidir juga mengajak para guru PAUD dan orang tua memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat belajar, pusat informasi, pusat bermain, sekaligus pusat kreativitas bagi anak.

Dalam kesempatan tersebut, Chaidir Syam didampingi Bunda Literasi dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Maros menyerahkan penghargaan dan hadiah kepada pengunjung aktif Perpustakaan Maros.

Selain itu, turut diserahkan sertifikat akreditasi perpustakaan.

Ketua GPMB Kabupaten Maros Bachtiar Adnan Kusuma mengatakan, Hari Kunjungan Perpustakaan memiliki filosofi penting dalam membangun growth mindset di tengah masyarakat.

Menurut Bachtiar, perpustakaan harus dipandang lebih dari sekadar ruang yang statis, formal, kaku, atau hanya sebagai tempat menyimpan buku.

“Perpustakaan tak sekadar ruang statis, hampa, formalistik, kaku dan hanya tempat gudang buku, melainkan menjadi pusat peradaban, sumber inspirasi, dan gaya hidup masyarakat,” kata Bachtiar.

Ia menjelaskan, transformasi perpustakaan memiliki makna besar, yakni mengubah paradigma perpustakaan dari sekadar ruang fisik menjadi ruang terbuka untuk berpikir dan mengembangkan diri.

Setiap orang, tanpa memandang status sosial, harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses ilmu pengetahuan melalui perpustakaan.

Menurut Bachtiar, tujuan lainnya adalah menanamkan kesadaran bahwa mencari tahu, membaca, dan belajar harus menjadi tradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Aktivitas tersebut tidak semata dilakukan karena tuntutan akademis atau tugas sekolah, tetapi menjadi kebutuhan masyarakat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan.

“Nah, filosofi inilah mendorong masyarakat untuk terus tumbuh sepanjang hidup. Pengetahuan tidak berhenti setelah lulus sekolah atau kuliah,” ujarnya.

Tokoh literasi nasional yang juga penulis dan editor ratusan buku tentang tokoh nasional dan daerah itu menjelaskan, penetapan 14 September sebagai Hari Kunjungan Perpustakaan tidak terlepas dari sejarah gerakan perpustakaan di Indonesia.

Menurutnya, pencanangan 14 September sebagai Hari Kunjungan Perpustakaan diprakarsai Kepala Perpustakaan Nasional pertama, Mastini Hardjoprakoso, melalui surat usulan kepada Presiden Soeharto pada 11 Agustus 1995.

Momentum tersebut, kata Bachtiar, kemudian menjadi pengingat pentingnya membangun budaya berkunjung dan memanfaatkan perpustakaan.

“Bupati Maros Dr H.A.S. Chaidir Syam secara tegas selalu mengajak kita ke perpustakaan dan membaca secara bermakna melalui launching Hari Kunjungan ke Perpustakaan Maros setiap tanggal 14 September setiap tahun,” katanya.(*)