SULSELONLINE.COM – Kekejaman Belanda kembali terngiang di benak ini dengan kehadiran film yang menampilkan pembantaian warga pribumi oleh Belanda di Indonesia. Film berjudul The East atau De Oost ini telah tayang di Amazon Prime.

Film ini disutradarai oleh orang Belanda berdarah Maluku, Indonesia, yang juga dikenal sebagai seorang pemusik (DJ).

De Oost menggambarkan ganasnya pasukan tentara KNIL pimpinan Raymond Westerling yang ditugaskan ”menumpas pemberontak dan teroris” di Hindia Belanda yang sudah merdeka dan menjadi Republik Indonesia.

Tokoh utama atau protagonis dalam film ini Johan de Vries, sukarelawan muda Belanda yang direkrut untuk membantu terciptanya ”Indonesia damai”. Tetapi, pengalaman di medan perang merontokkan keyakinannya pada kebijakan negaranya sendiri.

Sejarah Nomor Kendaraan DD yang Merupakan Warisan Belanda

De Oost menggaruk luka bangsa. Tahun 1946-1949 dikenang sebagai masa kelam di Indonesia termasuk di Sulsel. Pada 11 Desember 1946 pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Raymond Westerling membantai dan membunuh 40 ribuorang rakyat sulsel hingga kini dikenal sebagai Korban 40 ribu Jiwa.

Pada masa tahun 1946-1949 terjadi pembantaian, perkosaan, penjarahan pada ribuan warga sipil.

<!–nextpage–>

Ratusan ribu warga Indonesa meninggalkan tanah airnya dan telantar di banyak negara sebagai pengungsi padahal Indonesia baru saja mengumumkan kemerdekaannya. warga Maluku termasuk leluhur Jim Taihuttu (sutradara De Oost) ikut mengungsi.

Mbah Lindu Meninggal, Jual Gudeg di Yogyakarta Sejak Zaman Belanda

Puluhan ribu warga sipil di Indonesia gugur sebagai korban agresi militer mereka.

Film ini menampilkan aib besar Belanda di mata dunia yang melakukan tindakan biadab yang melanggar HAM.

Palmyra Westerling, putri Kapten Raymond Westerling, memprotes film itu dan memintanya diboikot seperti dikutip harian Trouw Belanda.

Menurutnya, Belanda pergi ke Hindia Belanda untuk menghentikan perjuangan kemerdekaan Indonesia,’ tulisnya di situs opini EW .

Menurutnya, mereka pergi ke Hindia Belanda untuk memerangi teror Indonesia yang menyebabkan banyak korban (sipil) di sana.

” Dia mengimbau ‘pembaca dan rekan senegara’ untuk memboikot film, bahan ajar, dan novel yang menyertainya.

Film ini telah tayang di Amazon Prime selama beberapa hari dan cukup menggetarkan jiwa penontonnya.(al)

73 Tahun Lalu, 40.000 Jiwa Rakyat Sulsel Dibantai Westerling

Mengenang Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan