SULSELONLINE.COM – Bekas tambang marmer dan kapur yang gersang seperti yang ada di Maros dan Pangkep bisa disulap menjadi tempat wisata yang memasukan dana ke kas daerah miliaran rupiah.

Tempat wisata viral itu bernama Wisata Setigi (Selo Tirta Giri) yang mulai dibuka pada Rabu (1/1/2020).

Setigi memiliki arti Batu, Air dan Bukit yang merupakan elemen wisata yang berlokasi di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik.

Wisata Setigi selain menyajikan wisata alam berupa perbukitan kapur juga terdapat wisata buatan seperti Jembatan Peradaban yang arsitekturnya bernuansa barat.

Kemudian ada replika bangunan masjid bergaya Persia. Sementara cita rasa lokal terlihat dari bangunan Candi Topeng Nusantara.

Di sebelah selatan area wisata terdapat sebuah gua yang didepannya terdapat patung Semar, salah satu tokoh pewayangan Jawa.

Suhartina Bohari: Maros Kaya Tempat Wisata

Di dalam gua itu terdapat 10 kalimat bijaksana (pitutur) Semar yang ditulis dalam tiga bahasa yakni Jawa, Indonesia dan Inggris.

Abdul Halim, Kepala Desa Sekapuk yang menjadi konseptor pembangunan Wisata Setigi, mengatakan, para pengunjung yang ingin mengelilingi wisata seluas 5 hektar tersebut bisa menggunakan mobil ATV atau motor trail mini yang tersedia di lokasi wisata.

“Selain itu ada Nogo Giri Pancoran, area food court berbagai macam menu makanan dan minuman serta bumi perkemahan,” kata Halim.

Dulunya kawasan Wisata Setigi merupakan bekas area tambang batu kapur. Namun sejak 2003 tambang tersebut tidak lagi digunakan dan berubah fungsi sebagai tempat pembuangan sampah. Baru pada 2018 tempat tersebut mulai dibersihkan dan dibangun menjadi tempat wisata.

“Sebelum resmi dibuka sudah banyak yang berkunjung. Tidak hanya wisatawan domestik, tapi juga ada wisatawan mancanegara. Tiket masuknya untuk dewasa Rp 15 ribu, anak-anak Rp 10 ribu,” ujarnya.

Kemenparekraf Siapkan Bantuan Rp 200 Juta untuk Pengusaha Pariwisata dan Industri Kreatif Begini Cara Mendapatkannya

Mengenai pendanaan, Halim mengajak warganya untuk berswadaya dengan cara setiap Kepala Keluarga (KK) menabung Rp 8 ribu per hari atau Rp 200 ribu perbulan selama setahun hingga terkumpul Rp 2,4 juta per KK. Jumlah ini terhitung sebagai saham yang dikelola oleh BUMDes

“Pembangunan Wisata Stigi murni swadaya masyarakat Sekapuk, bukan dari dana bantuan pemerintah,” katanya.

Setelah dua tahun berjalan, Desa Sekapuk mulai bangkit. Kategori desa miskin pun mulai bergeser karena perekonomian warga desa mulai membaik. Warga mulai merasakan dampak ekonomi dengan semakin banyaknya pengunjung ke wisata Setigi.

Dalam waktu 3 tahun, ia bisa membuka lapangan kerja untuk 899 kepala keluarga yang bergerak di jasa dan UMKM produk makanan minuman. “Alhamdulillah dari masyarakat yang pendapatan awalnya Rp 400.000 sebulan bisa menjadi kisaran Rp 6-7 juta perbulan,” ujar Abdul Halim.

Sementara itu Ketua Bumdes Sekapuk, Asjudi mengatakan saat ini ada lima unit usaha di Desa Sekapuk. Selain Wisata Setigi, mereka juga memiliki unit Perusahaan Air Masyarakat (PAM), usaha multi jasa yang melayani simpan pinjam masyarakat, pengolahan sampah masyarakat dan pengelolaan tambang. Dari usaha tersebut mereka mampu menyumbangkan Pendapatan Asli Desa (PAD) sebesar Rp 2,047 miliar.

“Dari usaha-usaha tersebut, tahun lalu Bumdes berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 7 miliar, sehingga mampu menyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD) sebanyak Rp 2,047 miliar,” kata Asjudi.

Tahun ini pihaknya menargetkan laba Bumdes meningkat menjadi Rp 9,9 miliar dan menyumbang PAD desa sebesar Rp 3,412 miliar. Dari laba tersebut, pihak pemdes memberika beasiswa pada pelajar SD, SMP, SMA bahkan mahasiswa asal Desa Sekapuk baik yang berprestasi atau dari keluarga tak mampu.

Viral!!! Video Wisatawan Curhat Mahalnya Harga Pecel Lele di Malioboro, Netizen Ungkap Pengalaman yang Sama