SULSELONLINE.COM — Anregurutta Haji (AGH) Sanusi Baco meninggal dunia, Sabtu malam, (15/5/2021).
Pak Kiai menghembuskan nafas terakhirnya pukul 20.08 wita di RS Primaya (dulu Awal Bros) Jalan Urip Sumoharjo Makassar.
Kepala Balitbang Agama Makassar, Dr Saprillah Syahrir MA mengkonfirmasikan kabar duka wafatnya Ketua Majelis Ulama Indonesia MUI Sulsel tersebut.
“Innalillahi wainnailaihi raji’un, ” kata Dr Pepi, sapaannya.
Ia mengaku tak percaya saat mendapat kabar duka ini, pasalnya saat Idul Fitri 1422 H lalu, ia duduk di samping Anregurutta Sanusi Baco menunaikan Salat Ied di Masjid Raya Makassar.
Kabar duka ini menyebar dengan cepat. Tokoh, pejabat dan warga melayat di rumah duka di Jalan Kelapa III Makassar.
– Anregurutta Sanusi Baco Dikenal sebagai Ulama Kharismatik Sulawesi Selatan
AGH Sanusi Baco dikenal sebagai sosok ulama karismatik. Ia dikenal santun dan disegani banyak kalangan.
Pemberian gelar Anre Gurutta atau Anregurutta disingkat AG adalah istilah gelar bagi ulama Sulawesi Selatan, sama dengan gelar Kiai di Jawa.
Istilah ini tidak dipakai secara umum kepada seorang ulama tetapi dipakai kepada ulama dalam lingkup pesantren, itupun hanya dalam bentuk panggilan kepada guru, bukan dalam bentuk penulisan nama gelar.
Pemberian gelar Anregurutta bukanlah gelar akademik, melainkan pengakuan yang timbul dari masyarakat, atas ketinggian ilmu, pengabdian dan jasa dalam dakwah Islam.
Anregurutta Sanusi Baco merupakan ulama kelahiran Maros, 4 April 1937.
Putra kedua dari enam bersaudara dari seorang ayah bernama Baco.
Sejak kecil ia akrab disapa Sanusi. Ketika beranjak muda, namanya dinisbatkan kepada ayahnya menjadi Sanusi Baco.
Pada zaman Jepang, Sanusi kecil menjadi perawat kuda tentara Jepang di Maros. Sementara ayahnya adalah seorang mandor.
Setelah merasa cukup dengan belajar kepada beberapa guru ngaji di desanya, ia mondok di Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso Barru, pimpinan AGH Ambo Dalle, selama delapan tahun.
Setelah lulus Madrasah Aliyah pada tahun 1958, ia hijrah ke Makassar dan mengajar ngaji di beberapa tempat.
Saat itulah Anregurutta Sanusi Baco meraih beasiswa dari Departemen Agama untuk kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
Di ‘Negeri Piramid’ itu, ia bersahabat dengan KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur (mantan Presiden RI) dan KH Musthofa Bisri (Gus Mus).
“Saya adalah teman seperjalanan Gus Dur ketika naik kapal menuju Kairo untuk kuliah di sana. Perjalanannya satu bulan dua hari. Membosankan sekali. Untung ada Gus Dur yang selalu bercerita menghibur,” kata Anregurutta Sanusi Baco mengenang Gus Dur, dikutip dari Tribunwiki yang dilansir dari nahdlatululama.id,
Pada tahun 1967, Anregurutta Sanusi Baco berniat untuk melanjutkan kuliah S-2 di Al-Azhar, namun terpaksa ditarik pulang ke tanah air oleh pemerintah Indonesia karena ia mendaftar sebagai tentara sukarela untuk berperang melawan Israel.
Persahabatannya dengan Gus Dur terus berlanjut, baik saat kuliah di Al-Azhar maupun setelah pulang dari Mesir. Di Al-Azhar bersama Gus Dur, ia menjadi pengurus mahasiswa.
Hanya saja kebersamaan mereka di Al-Azhar tidak berlangsung lama, karena Anregurutta Sanusi Baco harus kembali ke Indonesia, begitu dia berhasil meraih gelar sarjana.
“Gus Dur itu moderat dan terbuka, suka membaca dan hampir waktunya dihabiskan untuk membaca,” ujarnya.
Persahabatannya dengan Gus Dur membuat Anregurutta Sanusi Baco bertekad untuk berkhidmah di Nahdlatul Ulama (NU).
“Waktu itu Gus Dur sempat datang ke Makassar. Saya menjemputnya di bandara dengan sepeda motor vespa. Ternyata vespanya mogok, akhirnya saya naik vespa dan Gus Dur yang mendorongnya. Setelah bisa jalan baru kami berkeliling kota Makassar,” kenang ayah dari delapan anak ini.
Setelah kembali ke Makassar, aktivitasnya adalah mengajar di Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan mulai diminta mengajar ngaji serta ceramah di berbagai daerah.
Kemudian diangkat sebagai dosen negeri di Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makasar (sekarang UIN).
Selanjutnya mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Gazali (sekarang UIM) dan mulai berkeliling daerah berdakwah dan mendirikan Sekolah Tinggi Al-Gazali, cabang STAI Al-Gazali Makassar.
Pada tahun 2012 ia dianugerahkan Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam (Fiqh) di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
Jabatan yang pernah disandangnya, Ketua Umum MUI Sulsel, Rais Syuriah PWNU Sulsel dan Ketua Yayasan Masjid Raya Makassar.
Ia merupakan pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Soreang Maros. Serta menjadi pembina di sejumlah pondok pesantren di Sulsel. (*)

Tinggalkan Balasan