SULSELONLINE.COM — Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga memprediksi, stok produk minyak goreng kemasan akan segera membanjiri pasar.

Ini terjadi setelah pemerintah mencabut aturan harga eceran tertinggi (HET) untuk minyak goreng kemasan, yang justru menyebabkan kelangkaan stok beberapa waktu lalu.

“Dengan dibebaskannya sesuai mekanisme pasar, pasti (kebutuhan) akan terpenuhi dalam waktu dekat. Jadi kekosongan akan minyak goreng tidak lagi akan terjadi,” ujar Sahat, Kamis (17/3/2022).

“Jadi dalam waktu dekat pasar akan dibanjiri oleh produk yang premium dan kemasan sederhana,” dia menambahkan.
Sahat mengatakan, produk kemasan saat ini memiliki porsi antara 35-39 persen untuk konsumsi minyak goreng nasional. Melalui mekanisme pasar dengan mengikuti harga terkini minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), ia percaya tidak akan lagi terjadi kelangkaan.

“Itu (minyak goreng kemasan) kan diperuntukan sebetulnya bagi masyarakat yang mampu. Dia kan pakai branding, ada merek. Jadi kalau branding produk itu berbeda dengan komoditi. Minyak goreng curah tidak ada merek, jadi dia komoditi. Itu dipakai oleh masyarakat luas,” ungkapnya.

Dia pun percaya, konsumen minyak goreng kemasan tak akan beralih ke produk curah, meski secara harga lebih murah karena mengikuti HET Rp 14.000 per liter.

“Enggak lah. Orang sudah sering beli ke gerai market, di sana enggak ada minyak curah. Makanya namanya convenience store. Ada pasarnya masing-masing lah,” pungkas Sahat seperti dikutip dari Liputan6.com.

Mahalnya harga minyak membuat netizen geram.

“Coba jangan beli aja sehari biar pd bangkrut,” tulis akun zyd.id.

Netizen lainnya juga mengkhawatirkan harga gorengan akan semakin mahal dengan melambungnya harga minyak goreng.

“Rip gorengan, makin kecil bentuknya makin mahal harganya,” tulis akun afitariya