SULSELONLINE.COM – Minat berhaji warga Sulsel sangat besar. Karenanya banyak calon gaji yang harus antre berangkat haji. Bahkan antrean haji di Sulsel bila dirata-ratakan sudah mencapai 36 tahun.
Jika dilihat per kabupaten/kota, antrean haji bisa lebih lama.
Saat ini Sulsel mendapat kuota haji terbesar ke-7 di Indonesia.
Sulsel mendapat jatah haji di tahun 2023/1444 H ini sebanyak 7.272.
Jumlah sama dengan kuota haji Sulsel sebelum pandemi Covid-19, tahun 2020, atau turun 487 orang dibanding jatah di tahun 2019 yang mencapai 7.759.
Indonesia akan memberangkatkan 221.000 jemaah haji meliputi kuota reguler dan khusus.
Jatah haji Sulsel tahun ini terbesar di luar Pulau Jawa dan Sumatera.
Di Pulau Sumatera, hanya Provinsi Sumatera Utara yang lebih banyak dari Sulsel, yakni 8.328.
Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Ashabul Kahfi mengatakan ada sekitar 250 ribu warga Sulsel antre ke Tanah Suci.
Jika kuota haji Sulsel rerata hanya 7.272 setahun, maka warga yang antre itu baru terberangkatkan semua hingga 34 tahun ke depan.
“Usianya kalau dirata-ratakan itu 30-36 tahun,” kata Ashabul Kahfi yang juga Ketua DPW PAN Sulsel, Kamis (2/3/2023).
“Kalau pendekatannya per kabupaten, itu Bantaeng ada sampai 46 tahun,” ujar mantan Wakil Ketua DPRD Sulsel itu.
Berdasarkan KMA yang telah ditandatangani Menag Yaqut Cholil Qoumas pada 13 Februari 2023 lalu, Jawa Barat mendapat kuota terbanyak, 38.723. Disusul Jawa Timur (35.152), Jawa Tengah (30.377), Banten (9.461), dan DKI Jakarta (7.926).
“KMA ini akan jadi pedoman seluruh jajaran Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah serta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Haji Khusus dalam melakukan finalisasi penyediaan layanan jemaah haji Indonesia,” jelas Gus Yaqut, Kamis (2/3/2023).
Menurut Kahfi, Komisi VIII DPR RI bersama pemerintah sedang berupaya untuk menambah kuota jamaah haji Indonesia.
Dia menyebutkan kuota haji tahun ini sudah kembali normal.
Berbeda dengan sebelumnya yang dibatasi karena pandemi covid-19.
Kuota haji yang kembali normal, kata dia, diharapkan dapat mengurai antrian panjang jamaah haji.
Selain itu, Ashabul Kahfi juga mengaku berupaya memanfaatkan kuota haji negara lain yang tidak terpakai.
“Cuman kan tidak sesederhana itu (memanfaatkan kuota haji negara lain),” katanya mengutip makassar.tribunnews.com.
Karena biasanya itu di last minute. Kalau di last minute ada penambahan kuota kita kelabakan. Mulai dari transportasi, pesawat, hotel, dan lain sebagainya,” jelas Kahfi.
Penyesuaian Keberangkatan
Sesuai keputusan kemenag, dalam keberangkatan Haji di tahun 2023, apabila masih ada sisa kuota dari haji reguler, prioritas lansia, petugas pembimbing dari KBIHU, maupun daerah maka kuota akan diberikan kepada jemaah haji reguler nomor porsi berikutnya.
Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Hilman Latief mengatakan, penyesuaian sudah dilakukan dan kini jemaah haji bisa memperbarui kembali perkiraan keberangkatannya dengan memasukkan nomor porsi melalui aplikasi Pusaka Kementerian Agama.
Menurut Hilman, pihaknya selama ini telah menyediakan layanan online untuk memudahkan jemaah dalam mengecek estimasi keberangkatan hajinya.
Penghitungan estimasi itu didasarkan pada kuota haji tahun berjalan.
Karenanya, perkiraan atau estimasi keberangkatan sempat mundur cukup panjang pada tahun 2022 karena kuota saat itu ditetapkan hanya sekitar 46 persen.
“Estimasi keberangkatan selalu menggunakan angka kuota tahun terakhir sebagai angka pembagi. Tahun 2022, kuota haji Indonesia ditetapkan hanya 100.051 atau sekitar 46 persen dari kuota normal tahun-tahun sebelumnya.
Sehingga, estimasi saat itu menjadi mundur cukup jauh. Alhamdulillah, sekarang sudah ada KMA Kuota 2023 dengan kuota normal sehingga penghitungan estimasinya pun mengalami penyesuaian,” jelas Hilman.
Nomor porsi dapat dilihat dalam berkas pendaftaran yang diterbitkan oleh Kankemenag kab/kota pada saat jemaah mendaftar. No porsi berupa rangkaian 10 angka.(*)

Tinggalkan Balasan