SULSELONLINE.COM – Daya Anagata Nusantara (Danantara) adalah Badan Pengelola Investasi yang akan diluncurkan oleh pemerintah Indonesia pada 24 Februari 2025. Pembentukan Danantara bertujuan untuk mengonsolidasikan pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan mengoptimalkan pengelolaan dividen serta investasi.

Danantara akan berperan sebagai “superholding” yang mengelola berbagai aset BUMN utama, termasuk Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), PLN, Pertamina, Bank Negara Indonesia (BNI), Telkom Indonesia, MIND ID, dan Indonesia Investment Authority (INA). Pada tahap awal, total aset yang dikelola diperkirakan mencapai lebih dari Rp14.700 triliun atau sekitar 900 miliar dolar AS.

Dengan modal awal sebesar Rp1.000 triliun, yang dihitung berdasarkan modal konsolidasi BUMN tahun buku 2023 sebesar Rp1.135 triliun, Danantara diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing BUMN melalui konsolidasi pengelolaan.

Selain itu, Danantara akan menginvestasikan sumber daya alam dan aset negara ke dalam proyek-proyek berkelanjutan dan berdampak tinggi di berbagai sektor seperti energi terbarukan, manufaktur canggih, industri hilir, dan produksi pangan.

Pembentukan Danantara diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan pengembalian investasi dari aset-aset negara, serta membantu pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Sedangkan Temasek Holdings adalah perusahaan investasi milik pemerintah Singapura yang didirikan pada tahun 1974.

Temasek beroperasi sebagai perusahaan induk (holding company) yang mengelola investasi di berbagai sektor, termasuk perbankan, telekomunikasi, transportasi, energi, teknologi, dan kesehatan.

Tentang Temasek

  1. Kepemilikan & Struktur

    • Dimiliki sepenuhnya oleh Kementerian Keuangan Singapura, tetapi beroperasi secara independen dari pemerintah dalam pengambilan keputusan investasi.
    • Berbeda dari GIC (Government of Singapore Investment Corporation) yang mengelola cadangan devisa negara, Temasek berinvestasi dalam ekuitas dan aset produktif lainnya.
  2. Portofolio Investasi

    • Total aset yang dikelola pada tahun 2023 sekitar S$382 miliar (sekitar Rp4.500 triliun).
    • Investasi tersebar di berbagai negara, termasuk Asia, Amerika Serikat, dan Eropa.
    • Beberapa perusahaan besar yang dimiliki atau dikendalikan oleh Temasek antara lain:
      • DBS Bank (perbankan)
      • Singapore Airlines (transportasi)
      • Singtel (telekomunikasi)
      • ST Engineering (teknologi dan pertahanan)
      • Mapletree (real estate)
  3. Strategi Investasi

    • Fokus pada sektor pertumbuhan tinggi seperti teknologi, energi hijau, kesehatan, dan keuangan digital.
    • Berorientasi jangka panjang dengan prinsip tata kelola yang ketat dan bertanggung jawab secara sosial.
  4. Perbandingan dengan Danantara

    • Temasek beroperasi sebagai holding investasi dengan kepemilikan saham mayoritas di beberapa perusahaan kunci.
    • Danantara (Indonesia) diharapkan berfungsi seperti Temasek, dengan mengelola aset BUMN secara lebih efisien untuk meningkatkan daya saing dan nilai ekonomi.

Dengan model seperti Temasek, Danantara bertujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan aset negara dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi bagi Indonesia.

Pengurus Danantara

Burhanuddin Abdullah Harahap disebut bakal menjadi Ketua Tim Pakar Danantara (Daya Anagata Nusantara).

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian ini lahir di Garut, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juli 1947. Ia menjabat sebagai Menteri Koodinator Bidang Perekonomian di bawah Pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid.

Ia juga adalah Gubernur Bank Indonesia sejak tahun 2003 dan Gubernur untuk International Monetary Fund (IMF), Washington DC, di Indonesia.

Burhanuddin juga adalah Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) periode 2003-2006, dan terpilih kembali untuk periode 2006-2008. Selama kariernya di Bank Indonesia, Ia pernah menduduki beberapa jabatan di dalam dan luar negeri.

Burhanuddin saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama PLN sejak Juli 2024. (*)