JAKARTA — Rasulullah Muhammad SAW memiliki pola makan yang sederhana dan teratur, menjadi teladan bagi umat Islam. Secara umum, beliau makan tiga kali sehari, menjaga tubuhnya tetap sehat dan bugar, tanpa pernah berlebihan dalam makan.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Makanlah dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf: 31).

Pola makan Rasulullah tidak selalu sama setiap hari, sebab beliau rutin berpuasa pada Senin dan Kamis. Bahkan, terkadang beliau berpuasa karena tidak ada makanan di rumah, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA:
“Rasulullah SAW datang padaku suatu hari dan bertanya, ‘Apakah ada makanan?’ Jika aku menjawab, ‘Tidak,’ Rasulullah SAW berkata, ‘Maka aku berpuasa.'” (HR Ibnu Majah).

Pola Makan Rasulullah SAW

  1. Makan Pagi
    Rasulullah biasanya makan pagi setelah matahari terbit. Setelah salat Subuh, beliau duduk berzikir hingga matahari terbit, lalu pulang ke rumah untuk sarapan. Menu sarapan sederhana, seperti kurma dan air putih atau air nabeez. Kadang-kadang beliau menikmati kurma dengan susu kambing.

Diriwayatkan dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Pada kurma ajwa yang tumbuh di Aliyah, yang dimakan di awal pagi, terdapat obat dari semua penyakit sihir dan racun.” (HR Ahmad).

  1. Makan Siang
    Di siang hari, Rasulullah biasa makan sebelum salat Zuhur. Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa beliau pernah makan roti dan daging sebelum salat Zuhur bersama para sahabat.
    Pada hari Jumat, Rasulullah dan para sahabat lebih dahulu melaksanakan salat Jumat, baru kemudian makan siang dan beristirahat (qailulah).
    Menu makan siang Rasulullah biasanya terdiri dari roti dengan minyak zaitun atau cuka.

  2. Makan Malam
    Pada malam hari, Rasulullah makan sebelum salat Isya, saat cahaya matahari masih sedikit tersisa. Menu makan malamnya biasanya sayuran, kurma, roti gandum, susu, atau air nabeez, tergantung persediaan.

Rasulullah menganjurkan agar makan terlebih dahulu jika makanan telah tersaji, tanpa tergesa-gesa:
“Apabila makan malam sudah dihidangkan, maka makanlah terlebih dahulu sebelum kalian melaksanakan salat Maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dalam menyelesaikan makan kalian.” (HR Bukhari).

Usai salat Isya, Rasulullah biasanya langsung tidur, lalu bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan salat Tahajud sebelum kembali beraktivitas.(*)