SULSELONLINE.COM – Sulawesi Selatan tengah bersiap menghadapi babak baru dalam peta politik regional. Penunjukan Sitti Husniah Talenrang sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Sulsel periode 2025–2030 membuka lembaran baru sekaligus menyisakan banyak pertanyaan strategis.

Tak hanya karena ia menjadi perempuan pertama yang menahkodai partai berlambang matahari terbit di wilayah ini, tetapi juga karena duet yang dibangun bersama Bupati Maros, Chaidir Syam, sebagai Sekretaris DPW, menyiratkan kalkulasi politik jangka panjang yang serius.

Penetapan Husniah diumumkan langsung oleh Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas), pada Senin malam, 12 Mei 2025, di Jakarta. Pengumuman itu menutup babak kontestasi internal yang cukup alot. Sebelumnya, baik Husniah maupun Chaidir bersaing ketat dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) PAN Sulsel yang digelar di Makassar pada 4 Mei 2025. Persaingan keduanya berlanjut hingga ke forum formatur, yang akhirnya memutuskan Husniah sebagai ketua dan Chaidir sebagai sekretaris.

Bagi pengamat politik lokal, konfigurasi ini bukan sekadar kompromi internal, melainkan representasi kekuatan geopolitik PAN Sulsel: Husniah sebagai simbol dominasi Gowa–Makassar dan Chaidir sebagai representasi kekuatan Maros serta poros utara.

Konsolidasi Basis

Muktamar Pemilihan Ketum PPP Digelar Agustus atau September 2025

Dalam pernyataan usai pengangkatannya, Husniah menegaskan komitmen untuk segera melakukan konsolidasi hingga ke tingkat daerah. Target utamanya jelas: memperkuat infrastruktur partai menjelang Pemilu 2029. Realitas politik PAN Sulsel pasca Pemilu 2024 tidak terlalu menggembirakan. Hanya empat kursi diraih di DPRD Sulsel dan tiga kursi di DPR RI dari dapil Sulsel. Pekerjaan rumah Husniah–Chaidir sangat besar.

Namun, bukan tanpa modal. Husniah memiliki basis massa riil di Gowa, daerah yang ia pimpin sebagai bupati hasil kemenangan Pilkada 2024 bersama wakilnya, Darmawangsyah Muin. Pasangan “Hati Damai” (Husniah-Darmawangsyah) menang telak atas rivalnya, pasangan Amir Uskara-Irmawati, dengan perolehan 225.492 suara atau 53,61 persen. Kemenangan itu bukan hanya angka elektoral, tetapi bukti valid dari daya serap elektabilitasnya.

Chaidir Syam, di sisi lain, dikenal sebagai figur muda yang bersih dan berpengalaman. Ia meniti karier sebagai Ketua DPRD Maros sebelum menjadi bupati. Pragmatis, tetapi tetap menjaga idealisme. Keberhasilannya mengelola Maros dan pengaruhnya di kalangan pemilih muda dan birokrasi membuatnya menjadi sekutu strategis bagi Husniah.

Internal dan Eksternal PAN

Jelang 2029, PAN Sulsel Turunkan Tiga Striker Haus Gol

PAN Sulsel berada di fase kritis. Tantangan internal berupa konsolidasi antar faksi dan loyalis pasca Muswil menjadi ujian awal bagi kepemimpinan Husniah–Chaidir. PAN juga dituntut membangun narasi baru yang menjangkau pemilih urban dan milenial, kelompok yang selama ini cenderung netral atau terserap oleh kekuatan lain seperti NasDem, Gerindra, dan Golkar.

Dari sisi eksternal, PAN akan bersaing keras dengan partai-partai besar di Sulsel, termasuk Golkar yang dikenal memiliki jaringan akar rumput kuat, NasDem yang lincah memainkan politik identitas daerah, serta PKB yang semakin ekspansif pasca-Pemilu 2024. Apalagi, beberapa tokoh berpengaruh dari PAN Sulsel telah menyeberang atau menunjukkan sinyal hengkang pasca dinamika Muswil.

Namun, jika duet ini berhasil mengelola mesin partai secara efektif, membangun koalisi lintas etnis dan agama, serta menjaga stabilitas internal, peluang PAN merebut lebih banyak kursi pada Pemilu 2029 tetap terbuka.

Siapa Pimpin Beringin Rindang di Lumbung Padi?

Jejak Kemenangan Husniah

Husniah Talenrang bukan nama baru di panggung politik Sulsel. Ia memulai kiprah politik sebagai legislator DPRD Gowa pada Pemilu 2019, usai meraih lebih dari 6.000 suara di Dapil V. Ia dikenal sebagai politisi lapangan yang intens turun langsung ke masyarakat, termasuk menginap di rumah warga di daerah terpencil.

Pada 2021, ia dipercaya memimpin DPD PAN Gowa. Lima tahun kemudian, ia terpilih menjadi anggota DPRD Sulsel dari Dapil Gowa–Takalar dengan perolehan suara melampaui 44.000 suara. Namun, sebelum dilantik sebagai legislator, ia memilih bertarung di Pilkada Gowa. Bermodalkan enam kursi PAN di DPRD Gowa dan dukungan dari partai besar lain seperti Gerindra, Golkar, PDIP, Demokrat, PKS, hingga Hanura, ia membuktikan kapasitas elektoralnya.

Langkah politiknya selama ini menunjukkan pola kerja yang rapi, komunikatif, dan terukur. Ia juga memimpin sejumlah organisasi strategis seperti PUAN Sulsel, Perbasi Gowa, dan menjadi Ketua Kwarcab Pramuka.

Ashabul Kahfi Terpilih Jadi Ketua PAN Sulawesi Utara

Siapa Chaidir Syam?

Nama lengkapnya adalah H. Andi Syafril Chaidir Syam. Lahir pada 20 Februari 1977, ia menyelesaikan pendidikan S1 di Unhas dan melanjutkan S2 dan S3 di UMI Makassar, serta kini tercatat sebagai mahasiswa S3 Ilmu Politik Unhas.

Chaidir adalah figur teknokrat sekaligus politisi rasional. Ia pernah menjadi Ketua DPRD termuda se-Sulsel, dan kini menjabat Bupati Maros. Di tangannya, Maros tumbuh menjadi kabupaten progresif dalam tata kelola pemerintahan. Ia dikenal aktif dalam isu pendidikan, lingkungan, dan digitalisasi pemerintahan.

Beberapa penghargaan penting sempat ia raih, seperti Top Leader on Digital Government Award 2023 dan Indonesia’s SDGs Action Awards 2023. Dalam konteks PAN, Chaidir adalah simbol keterbukaan, inklusivitas, dan modernitas.

Dengan duet Husniah–Chaidir, PAN Sulsel menatap ke depan dengan konfigurasi baru. Tantangannya bukan hanya mengonsolidasikan kekuatan internal, tetapi juga mendesain ulang strategi pemenangan di tengah peta politik Sulsel yang dinamis. Apakah duet ini mampu menjawab tantangan 2029? Masih terlalu dini untuk disimpulkan, tapi langkah awal mereka—yang penuh hitungan strategis—layak untuk dicermati lebih jauh.(mursalim djafar)

Jika Pimpin PAN Sulsel, Chaidir Syam Targetkan Kursi di DPRD Naik Dua Kali Lipat