SULSELONLINE.COM – Konflik bersenjata antara Iran dan Israel memasuki hari keenam, Rabu (18/6/2025), dengan saling serang yang terus berlangsung. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan masih menimbang sejauh mana negaranya akan terlibat dalam konflik tersebut. Ketegangan ini menandai konfrontasi paling sengit antara kedua negara dan memicu kekhawatiran akan perang berkepanjangan di Timur Tengah.

Serangan Udara Israel ke Iran

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah menyerang lebih dari 20 target militer di ibu kota Iran, Teheran, termasuk fasilitas nuklir dan rudal strategis. Serangan ini diklaim sebagai upaya untuk menghentikan program senjata Iran dan mencegah serangan terhadap warga sipil Israel.

Sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome, dikabarkan berhasil mencegat sebagian besar rudal yang ditembakkan dari Iran. Namun, Iran tetap mengalami kerusakan parah dan jumlah korban tewas meningkat drastis.

Iran Balas Serangan: Operasi “True Promise 3”

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Iran meluncurkan puluhan rudal balistik ke pusat-pusat militer dan pangkalan udara di Israel. Beberapa rudal menghantam Tel Aviv dan Ramat Gan. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Abdolrahim Mousavi, meminta warga Israel untuk segera mengevakuasi diri dari Tel Aviv dan Haifa.

Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan bahwa hingga Rabu malam, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 224 orang dan melukai lebih dari 1.200 lainnya. Organisasi HAM HRANA bahkan mencatat total korban tewas mencapai 452 orang. Sementara itu, korban jiwa di Israel mencapai 24 orang.

Trump: “Bisa Saja Saya Lakukan, Bisa Juga Tidak”

Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan ambigu terkait kemungkinan keterlibatan militer AS. “Bisa saja saya lakukan, bisa juga tidak,” ujarnya saat ditanya apakah AS akan mendukung serangan Israel ke Iran.

Trump menambahkan bahwa Iran “sedang dalam banyak masalah” dan mengisyaratkan bahwa diplomasi masih mungkin dilakukan. Namun, ia juga memperingatkan bahwa AS mengetahui keberadaan Ayatollah Ali Khamenei dan menyebutnya “target mudah – setidaknya untuk saat ini tidak akan kami bunuh.”

Iran merespons keras dengan menyatakan tidak akan “mengemis di gerbang Gedung Putih” dan memperingatkan AS terhadap “kerugian yang tak terpulihkan” jika turut campur dalam konflik.

Rencana Pembunuhan Khamenei dan Seruan Perubahan Rezim

Tiga pejabat AS mengatakan bahwa Trump telah menolak rencana Israel untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Rencana ini diajukan usai Israel melancarkan serangan besar-besaran pekan lalu. Namun, Trump menegaskan bahwa hal itu “bukan ide yang bagus.”

Netanyahu tidak membantah laporan tersebut, tetapi menyatakan bahwa Israel akan “melakukan apa yang perlu dilakukan.” Ia juga menyebut bahwa 80% rakyat Iran ingin menggulingkan rezim saat ini.

Serangan Menewaskan Tokoh-Tokoh Penting Iran

Beberapa tokoh penting Iran dilaporkan tewas dalam serangan Israel, termasuk:

  • Hossein Salami, Kepala Garda Revolusi Iran

  • Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata

  • Gholamali Rashid, Komandan Militer Senior

  • Fereydoon Abbasi, Mantan Kepala Organisasi Energi Atom Iran

  • Mohammad Mehdi Tehranchi, Rektor Universitas Islam Azad yang terlibat program nuklir

Israel Targetkan Infrastruktur Strategis Iran

Israel menyebut telah menghantam markas besar Garda Revolusi di Teheran, fasilitas nuklir Natanz dan Isfahan, serta kilang minyak dan kapal tanker di Shahran. Serangan juga menghantam area permukiman, memicu antrean bahan bakar dan eksodus warga dari ibu kota.

Stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan adanya korban anak-anak di antara yang tewas, dan menyebut serangan Israel sebagai “kejahatan perang”.

AS dan Reaksi Global

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa negaranya tidak terlibat dalam serangan tersebut. “Prioritas kami adalah melindungi pasukan Amerika di kawasan,” tegasnya.

Sementara itu, Rusia dan Tiongkok mendesak gencatan senjata segera dan mengecam intervensi militer. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan memperingatkan bahwa upaya menggulingkan Khamenei bisa memperluas konflik regional.

Situasi Terkini dan Potensi Eskalasi

Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran ditutup. Keadaan darurat telah diberlakukan di Israel, sementara jaringan internet di Iran diperlambat untuk menangkal serangan siber.

Di tengah perang terbuka ini, diplomasi masih digantung di ujung tanduk. Trump menyebut bahwa “diplomasi masih mungkin,” tetapi juga menyatakan bahwa beberapa pemimpin Iran “tidak akan kembali.”(*)