MAKASSAR – Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta, Muhammad Reza Ebrahimi, mengungkapkan kondisi terkini negaranya usai serangan militer Israel dan pengeboman fasilitas nuklir oleh Amerika Serikat.
Ebrahimi menyaksikan langsung situasi di Iran saat serangan terjadi karena kebetulan ia sedang berada di negaranya. Ia tiba kembali di Jakarta pada Minggu (22/6/2025) sore, setelah menempuh perjalanan darat dari Iran ke negara tetangga, lalu melanjutkan penerbangan ke Indonesia.
Hal ini ia sampaikan dalam Diskusi Publik Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan bertajuk “Iran vs Israel: Akankah Perang Dunia Ketiga?” yang digelar Senin (23/6/2025).
“Saya menyaksikan langsung kondisi di Iran pasca serangan Israel, baik yang dilakukan secara langsung, melalui mata-mata, maupun pengkhianat di dalam negeri,” ujar Reza Ebrahimi.
Ia menegaskan bahwa kondisi di Iran tetap stabil. Aktivitas masyarakat berlangsung normal—toko tetap buka, anak-anak bermain di taman, dan pemerintahan berjalan seperti biasa.
“Rakyat Iran tetap menjalani kehidupan seperti biasa, baik di rumah, sanggar, maupun di medan perang,” ujarnya.
Sebaliknya, ia menggambarkan situasi di Israel saat Iran melakukan serangan balasan. Menurutnya, warga Israel panik dan berlarian ke bunker, berebut tempat aman.
“Mereka tidak hidup dalam rasa aman. Ini menjatuhkan kehormatan mereka dan menunjukkan bahwa mereka tidak tahan hidup dalam ketakutan,” katanya.
Israel Dinilai Kalah di Gaza dan Lebanon
Ebrahimi menilai, berbagai tindakan Israel belakangan ini merupakan bentuk frustasi setelah mengalami kekalahan dari Gaza dan Lebanon. Ia menegaskan bahwa Israel belum pernah benar-benar menang dalam dua konflik tersebut.
“Israel justru menjadi pihak yang kalah dalam dua medan perang itu,” ujarnya.
Ia juga menyoroti serangan Israel ke Suriah, termasuk penghancuran infrastruktur dan teror terhadap tokoh-tokoh perlawanan, seperti Ismail Haniyah.
Menurutnya, aksi-aksi Israel itu merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
“Iran tak bisa lagi tinggal diam menghadapi pelanggaran seperti ini. Kami adalah satu-satunya negara yang memberikan balasan nyata kepada Israel,” katanya.
Serangan Balasan dan Keterlibatan Amerika
Reza Ebrahimi menjelaskan bahwa Iran melancarkan serangan balasan dua hari setelah serangan Israel. Menurutnya, serangan itu membuat Israel kewalahan. Namun, Amerika Serikat kemudian turun tangan dan menyerang fasilitas nuklir Iran.
“Amerika hanya ingin memberi napas kepada Israel agar bisa menyusun kekuatan kembali,” ujarnya.
Ia menuding Amerika Serikat secara terang-terangan melanggar hukum internasional dan keluar dari jalur negosiasi nuklir. Ia juga mempertanyakan mengapa Israel belum bergabung dalam Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), padahal, menurutnya, negara itu memiliki dua ribu kepala nuklir.
“Mereka tak bisa menjawab hal ini secara rasional, hanya bisa memveto,” ujarnya.
Peringatan untuk Amerika dan Seruan Persatuan Dunia Islam
Reza menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan sepihak Israel dan Amerika Serikat. Ia bahkan menyatakan bahwa AS akan menerima balasan setimpal.
“Sejak awal perang ini, kita tahu Israel tidak akan bertahan tanpa dukungan Amerika Serikat. Jika tanpa dukungan itu, mungkin Israel sudah lenyap,” tegasnya.
Ia juga menyerukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu dan tidak terpecah oleh sekat-sekat internal. Menurutnya, jika dunia Islam terus berdiam, maka satu per satu negara akan menjadi target Israel, seperti Pakistan dan Turki.
“Sasaran mereka jelas, menciptakan Israel Raya dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat. Setelah itu, mereka tidak akan berhenti,” katanya.
Sebagai penutup, Ebrahimi menyerukan kesadaran kolektif umat Islam untuk memahami situasi dan terus membela Palestina serta kaum tertindas.
“Semoga kita senantiasa tergolong sebagai pembela Islam, Palestina, dan mereka yang tertindas,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan