PADA sebuah sore di Kabupaten Pamekasan,
warga Dusun Kendal, Desa Blumbungan, dikejutkan sebuah pemandangan tak biasa.
Seorang pria bernama **M Zaini** dengan sukarela meminta dirinya
dimasukkan ke dalam keranda layaknya jenazah,
lalu digotong berjalan sejauh lima kilometer.

Peristiwa itu terekam dalam video singkat berdurasi 16 detik,
namun cukup untuk menggemparkan jagat maya.
Di layar ponsel, tampak beberapa orang memikul keranda berat berisi manusia hidup,
sementara suara-suara terdengar, *“Kasih lewat, kasih lewat.”*
Keranda itu benar-benar diarak seperti perjalanan terakhir,
hanya saja kali ini si “jenazah” masih bernafas, masih sadar,
masih mampu mendengar detak langkah yang menyeretnya menuju ujung jalan.

Bagi sebagian warga, aksi itu tak lebih dari kelakuan nyeleneh,
namun bagi yang lain, ia menyimpan pesan moral yang dalam.
Junaidi, seorang saksi di lokasi, menjelaskan bahwa
semua itu dilakukan atas keinginan Zaini sendiri.
“Dia ingin merasakan bagaimana rasanya mati,” ucapnya lirih,
“supaya kita semua ingat, bahwa ajal pasti akan datang.”

Tak hanya itu, kabar beredar bahwa para pengusung keranda
mendapat bayaran Rp 2,5 juta untuk perjalanan panjang tersebut.
Sebuah angka yang membuat banyak orang semakin tercengang,
karena prosesi simbolis itu bukan sekadar pertunjukan,
melainkan juga perjalanan yang sengaja dibayar
demi sebuah perenungan tentang kefanaan.

Sesampainya di ujung perjalanan,
Zaini pun diturunkan dari keranda.
Seorang warga bertanya dengan nada bercanda,
“Masih hidup, Paman?”
Ia tersenyum tipis lalu berkata,
“Kesimpulan hidup itu jelas,
ujung-ujungnya mati,
yang kaya, yang miskin, sama saja.”

Ucapan itu meninggalkan jejak di hati yang mendengarnya.
Bagi sebagian orang, mungkin aksi Zaini hanyalah tontonan unik.
Namun bagi yang mampu membaca lebih dalam,
ia adalah cermin sunyi tentang kehidupan dan kematian—
bahwa pada akhirnya, semua perjalanan manusia
akan berakhir di keranda yang sama.(*)