SULSELONLINE.COM – Presiden AS Donald Trump menyatakan serangan Israel ke Qatar merupakan keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan menegaskan hal serupa tidak akan terjadi lagi.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan telah berbicara dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani serta Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, untuk memberikan jaminan terkait hal itu.

Trump menyebut serangan sepihak terhadap Qatar tidak menguntungkan bagi Israel maupun Amerika Serikat dan ia kecewa dengan keputusan Netanyahu. Ia berterima kasih kepada para pemimpin Qatar atas dukungan mereka, seraya menekankan peran Qatar dalam mediasi perdamaian.

Trump juga menginstruksikan Menteri Luar Negeri Marco Rubio menuntaskan perjanjian kerja sama pertahanan dengan Qatar, serta mengarahkan utusan Timur Tengahnya, Steve Witkoff, menyampaikan peringatan kepada Doha meski terlambat.

Pernyataan Trump sejalan dengan klarifikasi Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majid al-Ansari, yang menepis kabar bahwa Doha diberi tahu sebelumnya. Menurutnya, panggilan dari pejabat AS datang saat ledakan sudah terdengar. Hal ini berbeda dengan pernyataan Gedung Putih yang mengklaim mengetahui rencana serangan Israel sesaat sebelum terjadi.

Dalam pidatonya, Trump turut membahas Gaza. Ia berharap seluruh sandera dibebaskan dan perang segera berakhir. Trump menambahkan bahwa Netanyahu, usai serangan, menyatakan keinginan berdamai dan melihat peristiwa itu sebagai peluang menuju perdamaian.

Hamas menyebut sejumlah pemimpinnya menjadi target dalam serangan udara Israel di Doha, Selasa (9/9/2025). Anggota Biro Politik Hamas Suhail al-Hindi mengatakan Khalil al-Hayah dan Zaher Jabarin selamat, tetapi putra al-Hayah, Hammam, serta manajer kantornya, Jihad Labad, gugur. Beberapa tokoh lain masih hilang.

Menurut al-Hindi, serangan itu terjadi saat para pemimpin Hamas membahas proposal gencatan senjata dari AS. Ia menilai operasi tersebut tidak hanya menargetkan Hamas atau Qatar, melainkan mengancam semua pihak yang berjuang untuk kebebasan. Ia menuduh serangan mendapat lampu hijau dari Washington karena terjadi setelah Trump berbicara soal proposal damai.

Al-Hindi menyerukan dunia Arab untuk mengambil tindakan nyata, bukan sekadar kecaman. Ia menegaskan Hamas tetap berkomitmen memperjuangkan rakyat Palestina dan melanjutkan perundingan penghentian perang.

Militer Israel dalam pernyataannya mengonfirmasi operasi gabungan dengan Shin Bet yang menargetkan pimpinan Hamas. Media Israel melaporkan sasaran utama adalah Khalil al-Hayah, Zaher Jabarin, dan bahkan Khaled Meshaal. Netanyahu menegaskan operasi itu sepenuhnya prakarsa Israel, meski ia kini tengah dicari Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan kejahatan perang.

Kementerian Dalam Negeri Qatar menyebut ledakan di Doha berasal dari penargetan markas Hamas, sementara Kementerian Luar Negeri Qatar mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman serius bagi keamanan warganya. Pemerintah Qatar menyatakan penyelidikan tengah dilakukan di tingkat tertinggi.(*)