SULSELONLINE.COM  – Tim nasional Indonesia harus menelan kekalahan pahit pada laga perdana Grup B putaran ke-4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Bermain di King Abdullah Sports City, Jeddah, pada Rabu dini hari WIB (8–9 Oktober 2025), Indonesia takluk 2-3 dari Arab Saudi setelah sempat unggul terlebih dahulu.

Meskipun sempat memimpin lewat penalti Kevin Diks, berbagai kelemahan membuat tim Garuda akhirnya gagal mempertahankan keunggulan. Berikut lima faktor utama yang berkontribusi pada kekalahan tersebut:

  1. Kesalahan Yakob Sayuri Berujung Penalti

Yakob Sayuri menarik kaus penyerang Arab Saudi, Feras Al Buraikan, di pertengahan babak pertama—momen itu dianulir oleh VAR dan wasit kemudian menunjuk titik penalti untuk Saudi.

Feras sebagai algojo berhasil mengeksekusi penalti tersebut dengan baik, membawa Arab Saudi membalikkan keadaan menjadi 2-1 sebelum turun minum.

Kesalahan disiplin di area sendiri seperti ini sangat krusial karena mengubah momentum dan memberikan peluang tambahan kepada lawan.

  1. Lini Belakang Kurang Solid dan Lengah

Meski Indonesia unggul cepat melalui penalti Kevin Diks di menit ke-11, konsentrasi belakang terus melemah setelah itu.

Hanya enam menit kemudian, Saleh Abu Al-Shamat melepaskan tembakan luar kotak penalti yang tak mampu diantisipasi oleh barisan belakang Indonesia, menjebol gawang Maarten Paes dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Kekosongan ruang dan kurangnya marking menjadi kelemahan yang eksploitasi oleh skuad Saudi sepanjang pertandingan.

  1. Performa Kurang Optimal dari Beckham Putra dan Marc Klok

Beckham Putra langsung diganti di awal babak kedua, yang menunjukkan bahwa kontribusinya dirasa kurang efektif dalam serangan tim.

Marc Klok yang tetap dimainkan hingga akhir laga juga mendapat sorotan karena minim koneksi dan kontribusi signifikan, terutama di babak pertama, dalam membantu penguasaan bola dan penataan serangan.

  1. Kalah dalam Duel Fisik

Para pemain Indonesia tampak kesulitan dalam duel fisik melawan pemain Arab Saudi. Yakob Sayuri yang diposisikan lebih ke belakang misalnya, sering kalah dalam duel udara dan dalam situasi satu lawan satu.

Akibatnya, Arab Saudi berkali-kali berhasil menembus atau membongkar pertahanan dengan kombinasi fisik dan serangan cepat, memaksa Maarten Paes untuk bekerja keras. Referensi hasil pertandingan menunjukkan bahwa Al Buraikan bahkan mencetak gol kedua setelah menerobos dari dekat gawang.

  1. Serangan Terlalu Macet dan Kurang Variasi

Meski Indonesia sempat memimpin, permainan menyerang sepanjang laga dirasa stagnan dan cenderung terjebak di tengah lapangan. Pemain kreatif yang mampu membuka ruang dan mengoyak pertahanan Saudi tidak tampil menonjol.

Baru pada babak kedua, setelah beberapa pemain penyerang masuk (Eliano Reijnders, Thom Haye, hingga Ole Romeny) permainan Garuda mulai lebih mengalir. Namun saat itu momentum sudah mulai berbalik.

Jika pemain-pemain penyerang seperti Romeny sudah dimainkan lebih awal dan dengan skema yang lebih agresif, mungkin hasilnya bisa berbeda.(*)