MAROS – Pemerintah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, segera membangun sejumlah dapur satelit di wilayah terpencil untuk memperluas jangkauan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah.

Langkah ini dilakukan agar seluruh pelajar, termasuk di pelosok, dapat menikmati makanan sehat setiap hari sekolah tanpa terkendala jarak.

Sekretaris Daerah Maros, Andi Davied Syamsuddin, menjelaskan bahwa dapur satelit akan difokuskan di daerah yang sulit dijangkau, seperti Camba, Cenrana, dan Mallawa.

“Berdasarkan laporan koordinator SPPG, dapur satelit dibentuk bila jarak layanan lebih dari enam kilometer dari dapur utama. Tujuannya agar makanan tetap higienis dan cepat sampai ke siswa,” ujarnya, Selasa (14/10/2025).

Saat ini, program MBG Maros menargetkan 126.000 siswa. Dari jumlah itu, sekitar 73.900 siswa telah terlayani di 10 kecamatan. Empat kecamatan yang belum sepenuhnya terjangkau ialah Moncongloe, Camba, Cenrana, dan Mallawa.

Untuk memperluas layanan, dua dapur sedang disiapkan di Moncongloe—satu di antaranya masih melengkapi syarat teknis. Di Camba dan Cenrana masing-masing akan dibangun satu dapur, sementara di Mallawa disiapkan dua dapur, salah satunya didukung Kementerian PUPR bersama penyedia lokal.

Davied menyebut progres pelaksanaan program MBG di Maros telah mencapai 61 persen.

**Sistem Ketat dan Mitigasi Keracunan**

Pemkab Maros juga menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi keracunan makanan di sekolah.

“Sudah ada surat edaran tentang penanganan jika terjadi keracunan, baik di sekolah maupun pada balita, termasuk prosedur ketika gejalanya muncul di rumah,” ungkap Davied.

Tim koordinasi khusus telah dibentuk, melibatkan unsur pemerintah daerah, Forkopimda, serta Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Sulsel. Sejumlah dapur penyedia pangan gizi (SPPG) juga telah menyiapkan petugas tester di sekolah dan menerapkan SOP ketat dalam setiap proses pengolahan.

Bupati Maros, Chaidir Syam, menambahkan bahwa setiap dapur SPPG mampu menyerap hingga 47 tenaga kerja lokal. “Tenaga kerja dari masyarakat Maros yang terserap di SPPG kini sudah mencapai ratusan orang,” katanya.

Ia mengingatkan seluruh pengelola agar mematuhi standar keamanan pangan. “Harus hati-hati, sudah ada kasus sebelumnya. Jangan sampai terulang lagi,” pesannya.

Chaidir juga menegaskan bahwa Badan Gizi Nasional akan mengambil tindakan tegas bila ditemukan pelanggaran. “Kalau ada kasus keracunan, dapurnya langsung ditutup,” tandasnya. (*)