SULSELONLINE.COM – Syuriyah PBNU resmi memberhentikan Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dari jabatan Ketua Umum PBNU mulai 26 November 2025. Keputusan itu tertuang dalam surat edaran yang ditandatangani Wakil Rais Aam Afifuddin Muhajir dan Katib Aam Ahmad Tajul Mafakhir. Dengan pemberhentian ini, Gus Yahya tidak lagi memiliki wewenang, hak, maupun fasilitas sebagai Ketum PBNU.
PBNU juga diminta segera menggelar rapat pleno untuk membahas pemberhentian dan penggantian pengurus. Selama jabatan Ketum kosong, kepemimpinan PBNU berada di tangan Rais Aam.
Risalah rapat Syuriyah PBNU yang menjadi dasar keputusan itu mencatat beberapa pertimbangan. Salah satunya, undangan kepada narasumber yang dinilai terhubung dengan jaringan Zionisme Internasional dalam program AKN NU, yang dianggap melanggar nilai-nilai Aswaja dan mencemarkan nama baik organisasi. Ada pula dugaan masalah tata kelola keuangan PBNU yang dinilai menyalahi aturan.
Rapat memutuskan meminta Gus Yahya mundur dalam tiga hari. Jika tidak, ia diberhentikan. Pertemuan itu dipimpin Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan dihadiri 37 dari 53 pengurus Syuriyah.
Sebelum keputusan terhadap Gus Yahya, PBNU juga mencabut mandat Charles Holland Taylor sebagai penasihat internasional Ketum PBNU karena diduga punya keterkaitan dengan jejaring yang berpotensi merugikan posisi PBNU.
Sejumlah pengurus PBNU meminta warga NU tetap tenang. Ketua PBNU Umarsyah menyebut keputusan Rais Aam bersifat final.
Gus Yahya sebelumnya mengatakan belum menerima pemberitahuan resmi soal permintaan mundur. Ia juga membantah anggapan terafiliasi dengan Israel. Ia menjelaskan bahwa kunjungannya ke Yerusalem pada 2018, termasuk pertemuan dengan Netanyahu, dilakukan untuk menyuarakan dukungan bagi Palestina, dan fakta itu sudah diketahui para pengurus NU ketika memilihnya pada Muktamar 2021. Ia menegaskan sikapnya tidak pernah membela Israel dan tetap konsisten mendukung Palestina.(*)

Tinggalkan Balasan